Daging Kurban Turut Dinikmati Masyarakat Urban Prasejahtera

Global Qurban - ACT juga mendistribusikan daging kurban kepada masyarakat urban ibu kota. Mereka yang dipilih berasal dari kelompok prasejahtera, antara lain pedagang kecil, lansia, janda, hingga pekerja lepas.

Makhtori, pedagang klepon keliling di wilayah Bintaro, Tangerang Selatan, salah satu penerima manfaat daging kurban. (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, TANGERANG SELATAN – Makhtori sedang bersiap menjajakan kleponnya ketika Masyarakat Relawan Indonesia dan Global Qurban - ACT Tangerang Selatan mengantarkan daging kurban, Ahad (2/8) siang.  Hari itu pedagang asal Brebes itu tidak menyangka turut mendapat daging kurban dari Global Qurban - ACT.

Selama 20 tahun berkeliling jualan klepon, menu daging tidak pernah masuk ke daftar lauk Makhtori sehari-hari. Ia mengaku, menikmati daging hanya saat hari raya Iduladha. “Kalau makan ya kadang lauknya telur asin, telur dadar, tempe tahu. Namanya pedagang kecil, keuntungannya sedikit. Kalau makan kayak daging ya di hari-hari seperti ini (Iduladha),” cerita Mukhtori. Bapak yang merantau demi keluarganya di kampung itu pun akan mengolah daging yang ia terima sore itu jadi semur.

Tidak jauh dari kontrakan yang disewa Makhtori, Mak Iyah (70), janda lansia jalan tertatih ketika relawan mengetuk pintu rumahnya. Perempuan baya yang tinggal di Pondok Pucung, Kecamatan Pondok Aren itu juga masuk dalam daftar penerima daging kurban Global Qurban - ACT.


Tim program Global Qurban - ACT Tangerang Raya Rodi Maryanto (kiri) saat mengantarkan daging ke rumah Haryati, warga Pondok Ranji, Ciputat Timur. (ACTNews/Gina Mardani)

Mak Iyah tinggal bersama anak dan menantunya yang bekerja sebagai pengemudi ojek daring. Sehari-hari keluarga kecil itu hidup dalam kesederhanaan. “Emak mah bisanya doain, supaya lancar rezekinya buat yang bagi (pekurban),” ucapnya lalu merapal Al Fatihah.

Syukur juga disampaikan keluarga Hartono (50) dan Haryati (45), warga Pondok Ranji, Ciputat Timur. Tinggal di rumah semi permanen bukan di tanah sendiri selama hampir 10 tahun, membuat keluarga ini tidak pernah terpikir untuk membeli daging.

Sebagai tukang servis, Hartono harus menafkahi istri dan lima anaknya. Bahkan, belum lama istri Hartono, mengalami kebutaan karena katarak. Haryati pun berhenti dari pekerjaannya sebagai asisten rumah tangga. Tulang punggung utama kini ada di pundak Hartono.

Daging sapi yang bagi sebagian orang menjadi sajian sederhana adalah sebuah bahagia bagi keluarga mereka. “Alhamdulillah, ini mau dimasak rica-rica,” celetuk Haryati.

Koordinator Program Global Qurban – ACT Tangerang Selatan Rodi Maryanto mengatakan, alasan Global Qurban juga memetakan wilayah urban dalam implementasi kurban karena masih ditemukan banyak masyarakat prasejahtera yang jarang mengonsumsi daging sebagai salah satu makanan bergizi.

“Selain di daerah-daerah, Global Qurban - ACT juga memerhatikan saudara kita yang membutuhkan di wilayah perkotaan. Di Tangerang Selatan, daging kami bagikan kepada lansia, janda, bahkan ada juga penerim manfaat program Sahabat UMI, dan pedagang kecil. Mereka rata-rata perantau yang mencari nafkah ke kota, mereka juga umumnya mengontrak,” kata Rodi.

Rodi mengatakan, implementasi kurban di Tangerang Selatan bisa berlangsung karena dukungan para dermawan. Usai kurban, Rodi berharap, dukungan para dermawan tetap mengalir melalui program-program ACT lainnya. “Ada sedekah modal usaha untuk pedagang mikro melalui program Sahabat UMI, ada bantuan beaguru melalui Sahabat Guru Indonesia, atau pun wakaf,” terangnya.

Mewakili masyarakat, Ketua RT 06 RW 03 Pondok Ranji, salah satu wilayah distribusi Global Qurban - ACT mengungkapkan terima kasih. Kerja sama MRI dan ACT dengan pengurus RT 06 bukan hanya kali ini, tetapi beberapa program sebelumnya.

“Dulu kita kerja sama saat penyuluhan prilaku hidup bersih, relawan MRI dulu juga pernah asesmen ke warga sini, dan sekarang alhamdulillah kembali diingat saat kurban, ibu mengucapkan terima kasih,” kata Hennylia.[]