Dakwah Encung Arifin Jaga Keteguhan Muslim

Dakwah Encung Arifin begitu hebat, berpindah dari satu pulau ke pulau yang lain. Membimbing umat agar tetap menjadi muslim di tengah banyaknya pemberian sembako sebagai alat ajakan berpindah keyakinan.

dakwah encung arifin
Ustaz Encung Arifin (kanan) saat mengajari anak-anak mengaji. (ACTNews)

ACTNews, CILACAPSenin (31/5/2021) menjadi hari yang penuh haru dan menginspirasi bagi Aksi Cepat Tanggap Cilacap. Bagaimana tidak, Tim ACT merasakan sulitnya mencapai tujuan dengan menggunakan sampan di Pulau Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap. 

Thohirin dari Tim Program ACT Cilacap menceritakan, untuk tiba di Ujung Alang, transportasi yang digunakan ialah sampan, untuk mengendalikan laju dan pergerakannya pun harus dilakukan susah payah. Ombak sempat membuat sampan yang dinaiki terombang-ambing. Menjaga keseimbangan agar sampan tidak terbalik menjadi keharusan.

"Kalau yang tidak terbiasa mungkin sudah mabuk laut atau sampannya bisa terbalik. Ngeri juga naik sampan di laut Cilacap," kata Tohirin, Kamis (10/6/201). 

Perjalanan tim ACT Cilacap ke Ujung Alang dalam rangka mengantarkan amanah dermawan untuk Ustaz Encung Arifin yang berdakwah dan berjuang menyebarkan Agama Islam di sana tanpa pamrih. Tak hanya di Ujung Alang, Ustaz Encung juga berdakwah di tiga pulau sekitar, yakni Desa Ujung Gagak, Panikel, dan Klaces. 

Hidup Encung Arifin didedikasikan untuk mengajar mengaji anak-anak dan orang dewasa di daerah tersebut. Tak hanya mengaji Al-Qur’an, juga mengaji ilmu dan nilai agama Islam. Encung Arifin berdakwah pindah dari satu tempat ke tempat lain demi menjaga agar warga tetap teguh dalam pendiriannya sebagai muslim, meski tawaran memeluk agama lain terus menerus datang.

"Tempat ibadah agama lain banyak berdiri dan begitu megah. Mereka juga melakukan syiar ke warga. Sering kali jemaah saya diberi sembako yang digunakan sebagai alat pendekatan," kata Encung. 

Dakwah Encung sendiri masih dengan cara membimbing dan memberikan pelajaran tentang nilai-nilai Islam. Ia belum mampu menggunakan materi sebagai alat dakwah. Dakwah dengan pendekatan materi memang dirasa ampuh, khususnya ke mereka yang berekonomi prasejahtera. Akan tetapi, ekonomi Encung pas-pasan dan sederhana. Pendapatan Encung hanya dari berjualan kecil-kecilan di rumahnya. 

"Buat makan dari warung kecil ini. Enggak gede banget (keuntungannya), tapi alhamdulillah buat makan setiap hari ada. Untuk dakwah, saya buat ibadah, enggak boleh meminta bayaran,” jelas Encung yang merasa prihatin dan takut kalau muslim di area dakwahnya semakin berkurang.

Tentang keterbatasan Ustaz Encung, tim ACT Cilacap mendapat kesan yang mendalam. Menurut Tohirin, usai tim menyerahkan apresiasi berupa biaya hidup dan paket pangan dari para dermawan, Ustaz Encung meneteskan air mata. Apresiasi tersebut merupakan yang pertama yang diterima selama aktivitas dakwahnya.

"Biasanya Ustaz Encung dapat bantuan karena beliau prasejahtera, tapi beliau tetap mengatakan bahwa dirinya mampu, karena masih bisa makan dan tidak kekurangan. Tapi, baru kali ini beliau mendapatkan apresiasi atas perjuangan dakwahnya, dan beliau sangat berterima kasih dan mendoakan kita semua dan dermawan mendapatkan surga-Nya,” kata Tohirin.[]