Dalal: Harus Bertani Agar Tak Bawa Utang Saat Meninggal

Di usia 70 tahun, Dalal masih semangat bekerja keras di sawah. Bagaimana pun, hal itulah yang kini menutupi kebutuhan hariannya dan utang tanamnya.

petani dalal
Dalal sedang mendorong sepedanya menuju sawah. (ACTNews)

ACTNews, SIDOARJO – Guratan usia memang terlihat dari wajah Dalal (70). Tapi sampai sekarang, fisiknya masih kuat menjejak kaki di sawah. Petani asal Sidoarjo ini menganggap lahan sawah adalah rumah keduanya. “Kehidupan saya di sawah, nak. Saya sehari ngecek lahan saya itu dua kali. Dari subuh ketemu siang, nanti sorenya saya ke sawah lagi. Pekerjaan saya cuma ini,” ucap pak Dalal.

Sepeda kesayangannya menjadi teman. Setiap hari ia mengayuh sekitar 1 kilometer dari tempatnya tinggal, karena berjalan kaki bukan pilihan di usianya yang sudah senja ini. Lahan seluas 7.000 meter persegi itulah yang kini jadi satu-satunya sumber penghidupannya yang kini tinggal seorang diri.

Ia harus menyiapkan modal yang tidak sedikit untuk menggarap lahan tersebut. Apalagi modal ini didapat dari yang biasa ia pinjami yaitu bank keliling atau rentenir. Belum lagi jika bicara kesulitan demi kesulitan dalam bertani yang sering di alami oleh Dalal. Seperti pupuk yang sulit, modal tanam, belum lagi kalau gagal panen lengkapnya kesulitan semakin ia rasakan.

Bagi Dalal gagal panen bukan hal yang baru. Sudah 2 kali musim panen ia tidak bisa menikmati hasil dari lahannya karena dimakan tikus dan burung di usia tanaman 1 bulan. Jika hal ini sudah terjadi tidak banyak yang bisa dilakukan Dalal kecuali meratapi.


“Seperti ini lah petani, kalau sudah gagal panen cari utangan terus. Setiap hari didatangi pemberi pinjaman (rentenir) tidak ada pilihan lain karena cari modal untuk tanam sulit kecuali sama bank keliling. Pinjam hari ini ya langsung ada hari ini uangnya, petani kan butuh cepat kalau sudah masuk musim tanam. Kalau kelewat ya enggak bisa tanam,” tutur Dalal.

Meski mengalami gagal panen, Dalal terus menggarap sawah miliknya. “Sayang kalau tidak saya garap, meski saya tidak tahu akan gagal lagi atau tidak. Pokoknya harus bertani buat bayar utang-utang saya, agar saya tidak bawa beban hutang kalau sudah meninggal,” tutup Dalal.

Membantu kesulitan yang kini dialami Dalal, Global Wakaf – ACT menyalurkan Wakaf Sawah Produktif kepadanya. Ia sangat berharap adanya program bantuan modal untuk bertani dari Global Wakaf – ACT dan Yayasan penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I) ini bisa menyelamatkan petani dari pinjaman bank keliling, karena bunganya yang cukup besar.

Wakaf Sawah Produktif juga saat ini menjadi salah satu motor dari Gerakan Sedekah Pangan Nasional, yang bertujuan membentuk kedaulatan pangan negeri. Wakaf Sawah Produktif adalah hulu dari gerakan ini. Sehingga, selain memberdayakan petani sebagai produsen pangan, hasilnya juga dapat bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan. []