Dampak Banjir Rob di Pekalongan, Warga Seperti Diusir Perlahan

Banjir rob di pesisir Pekalongan terjadi setiap hari. Dampaknya, infrastruktur rumah dan fasilitas umum rusak, aktivitas warga juga terganggu. Warga yang memiliki biaya memilih pindah tapi yang prasejahtera bertahan.

banjir rob pekalongan
Kondisi halaman dan rumah warga terdampak banjir rob di Pekalongan. (ACTNews)

ACTNews, PEKALONGAN – Banjir rob menjadi bencana yang memilukan warga Dukuh Clumprit, Kelurahan Degayu, Kecamatan Pekalongan Utara. Pilu karena banjir rob seperti mengusir warga secara perlahan.

Ketua Rukun Warga 08 Dukuh Clumprit Yoni mengatakan, banjir rob terjadi setiap hari. Ketinggian air semakin hari semakin tinggi. Saat hujan, ketinggian air meningkat hingga 80 cm.

“Kalau tidak hujan paling 40 cm. Rumah-rumah warga dan jalan semakin hari rusak. Meski sudah ditinggikan, banjir rob yang setiap hari terjadi kembali merusak rumah sudah ditinggikan,” kata Yoni, Jumat (24/12/2021).

Yoni melanjutkan, banjir rob yang setiap hari menggenangi rumah warga pun kerap menghambat aktivitas warga sehari-hari. “Motor yang warga pakai untuk mencari nafkah setiap hari kerap rusak dan mogok karena kemasukan air rob,” ujar Yoni.

Muh Aris Marfai dkk dalam penelitiannya tentang Dampak Bencana Banjir Pesisir dan Adaptasi Masyarakat Terhadapnya di Kabupaten Pekalongan, yang disampaikan dalam Pekan Ilmiah Tahunan Ikatan Geolog Indonesia (IGI) Universitas Negeri Yogyakarta 2014 menyimpulkan, banjir rob di Kabupaten Pekalongan telah menyebabkan terjadinya kerusakan infrastruktur.

Warga tengah melintasi jalan yang terendam banjir rob. (ACTNews)

Rumah, jalan, fasilitas umum seperti sekolah dan layanan kesehatan, sanitasi, lahan pekarangan, tegalan, persawahan dan lahan tambak rusak. Adaptasi masyarakat terhadap banjir rob di antaranya adalah meninggikan bagian depan rumah, membuat rumah tingkat, melakukan migrasi, meninggikan jalan, membuat tanggul selokan, membuat sanitasi di atas sungai, meninggikan bedengan tambak, meninggikan batas tambak dengan jaring dan memilih bibit tanaman padi yang tahan terhadap salinitas yang tinggi.

“Beberapa warga yang memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik memutuskan untuk pindah ke lokasi yang lebih baik. Banyaknya warga yang tidak pindah disebabkan mata pencaharian mereka berada di lokasi kejadian. Sedangkan beberapa yang lain tidak memilih untuk pindah karena alasan ketiadaan biaya,” tulis Marfai dkk. 

Distribusi Bantuan

Jumat (24/12), Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Pekalongan kembali melakukan aksi kebaikan. ACT-MRI melakukan distribusi bantuan untuk para penyintas banjir rob yang berada di wilayah tersebut.  


Warga menerima bantuan paket pangan dari ACT dan Pegadaian Syariah Ponolawen. (ACTNews)

“Total ada sekitar 100 paket pangan dibagikan ke warga dan pondok pesantren yang terdampak banjir rob,” ujar Aditya Nugraha, Program Implementator ACT Pekalongan.

Aditya menambahkan, dalam kegiatan ini, ACT Pekalongan bekerja sama dengan PT. Pegadaian Syariah Ponolawen. Bantuan ini bersumber dari Dana Kebajikan Umat Pegadaian Syariah Ponolawen. “Semoga kegiatan ini menginspirasi elemen masyarakat lain untuk membantu warga yang terdampak banjir rob di Pekalongan,” pungkasnya.[]