Dampak Buruk Asap Kebakaran Hutan

Asap kebakaran hutan dan lahan memiliki dampak buruk. Polutan yang dibawanya dapat dengan mudah masuk ke tubuh makhluk hidup dan mempengaruhi kesehatan.

Kondisi abut asap menyelimuti daerah Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan (Kalsel). Keadaan ini dipotret relawan Aksi Cepat Tanggap Kalsel saat tim melakukan pemadaman karhutla di wilayah tersebut. (ACTNews/M. Riadi)

ACTNews, PONTIANAK – Dari pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika per Kamis (19/9) pukul delapan pagi, kualitas udara di beberapa kota terdampak asap kebakaran lahan dan hutan masih berada di level tidak sehat, bahkan lebih. Di Pekanbaru, Riau misalnya. Pagi ini kualitas udara dengan kosentrasi PM10 atau partikulat yang berukuran lebih kecil dari 10 mikron, berada di sangat tidak sehat.  

Kota lain di Sumatra, seperti Jambi, kualitas masih berada di level sedang. Sebelumnya, pada Kamis dini hari tadi, berada di level sangat tidak sehat. Lain hal dengan di Palembang. Grafik yang dipublikasi BMKG menunjukkan kenaikan level Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU), dan kini berada di level berbahaya.

Di Kalimantan yang juga terdampak kabut asap akibat karhutla, kondisi udara pagi ini juga terpantau kurang baik di beberapa wilayah. Di Sampit, Kalimantan Tengah udara di level berbahaya. Tren grafik naik terpantau di kota ini sejak dini hari tadi. Sama dengan di Sampit, grafik kenaikan level ISPU juga terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat. Levelnya kini berada di level tidak sehat.


Dr. Muhammad Riedha Bambang dari Tim Medis Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengatakan, kabut asap yang terjadi di sebagian Sumatra dan Kalimantan saat ini sangat berbahaya bagi kondisi kesehatan masyarakat. Asap yang menyebar dapat menimbulkan efek langsung pada kesehatan. “Dampaknya bisa berpengaruh pada iritasi mata, hidung, tenggorokan, juga alergi kulit,” ungkapnya, Kamis (19/9).

Selain itu, tambah dr. Riedha, infeksi saluran pernapasan atau ISPA dan penyakit alergi seperti asma juga lebih mudah muncul. Penyakit ini timbul akibat kondisi gangguan fungsi paru-paru akibat kualitas udara yang tidak baik.

Dampak asap terhadap kesehatan juga sangat berpengaruh pada kelompok usia rentan seperti bayi-balita, orang lanjut usia, ibu hamil dan menyusui. Asap yang mengandung polutan berbahaya dapat berpengaruh pada kesehatan mereka. “Selain melalui udara yang dihirup alat pernapasan, polutan yang terbawa asap bisa juga jatuh ke aliran air atau makanan yang kemudian dikonsumsi makhluk hidup,” tambah dr. Riedha.

Saat ini, ACT melalui tim medis yang bertugas di Riau dan Kalimantan Barat sedang melakukan pelayanan medis bagi warga terdampak bencana kabut asap. Tak hanya itu, tim tanggap darurat juga ikut memadamkan api yang membakar lahan gambut. Posko bencana asap juga telah dibuka untuk menampung bantuan dari masyarakat untuk kemudian disalurkan ke warga terdampak. []