Dampak Covid-19, Penghasilan Pengemudi Angkutan Daring Menurun

Semenjak sebagian aktivitas masyarakat dibatasi untuk pencegahan Covid-19, ada warga yang terdampak secara ekonomi. Penghasilan harian mereka menurun.

Dampak Covid-19, Penghasilan Pengemudi Angkutan Daring Menurun' photo
Daroji menerima Air Minum Wakaf dari Global Wakaf - ACT. Pendistribusian Air Minum Wakaf merupakan bagian dari Operasi Pangan Gratis. (ACTNews/Eko Ramadani)

ACTNews, DEPOKTak biasanya pukul 15.00 WIB Daroji sudah berada di rumahnya yang ada di Kampung Lio, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok. Hari itu, Kamis (19/3), ia beristirahat setelah bekerja sebagai pengemudi ojek daring. Sejak pagi hingga sore itu, Daroji tak banyak mengantongi hasil, ia mengaku baru mendapatkan dua penumpang sepanjang hari Kamis itu.

Sudah sebulan ini Daroji merasakan adanya penurunan pendapatan. Ia mengaku di hari-hari sebelumnya mampu membawa uang hingga Rp100 ribu per hari. Akan tetapi, kini Rp30 ribu saja sangat sulit ia dapatkan. “Dari awal Februari kemarin sudah mulai berkurang, penumpang juga mulai dikit, puncaknya awal Maret ini,” akunya, Kamis (19/3).

Sejak beberapa hari lalu, aktivitas di ibu kota dan kota-kota penyangga di sekitarnya mulai berkurang, tak terkecuali Depok. Sekolah-sekolah mulai meliburkan muridnya akibat wabah Covid-19 atau virus corona mulai menyebar di Indonesia. Pun dengan perkantoran yang mulai memberlakukan sistem kerja di rumah bagi sebagian karyawannya. Hal ini lah yang menurut Daroji berdampak pada pendapatannya.

Sebelum ditemukannya kasus corona di Indonesia, Darojo mengatakan, penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Penumpangnya pun terbilang banyak, ia bisa mendapatkan hingga 10 penumpang per hari. Namun, kini untuk mendapatkan dua penumpang pun dirasa agak sulit karena aktivitas masyarakat yang mulai berkurang.

Hal serupa juga dirasakan Rully Hasanudin, pengemudi angkutan mobil daring. Saat ditanya oleh ACTNews di tengah perjalanan dari Depok menuju Humanity Distribution Center, Kamis (19/3) lalu, ia mengatakan per harinya kini ia hanya mampu mendapatkan paling banyak dua penumpang. Itu pun harus menunggu seharian. “Di dua bulan terakhir ini malah sering enggak dapat sama sekali penumpang,” ungkapnya.


Suasana moda raya terpadu MRT dari Stasiun Fatmawati menuju Lebak Bulus Grab, Senin (23/3) pukul 16.45 WIB. Di hari biasa, angkutan ini penuh sesak. (ACTNews/Gina Mardani)

Rully dan Daroji merupakan beberapa pekerja harian yang mengalami dampak berkurangnya aktivitas masyarakat akibat pandemi corona. Penghasilan harian mereka berkurang drastis karena mengandalkan kegiatan masyarakat yang menggunakan jasa transportasi mereka.

Merespons hal ini, Aksi Cepat Tanggap (ACT) sejak mewabahnya virus corona mulai melakukan gerakan Bersama Lawan Corona. Aksi ini tak hanya di bidang medis, tapi juga penyediaan pangan masyarakat yang terdampak wabah ini. Sri Edy Kuncoro selaku Direktur Program ACT mengatakan, ACT saat ini mengerahkan seluruh armada kemanusiaannya untuk merespons bencana wabah virus corona. “Untuk penyediaan makanan siap santap, Humanity Food Truck siap melakukan aksi. Sedangkan untuk penyediaan beras menggunakan armada Humanity Rice Truck. Semua bergerak dalam Operasi Pangan Gratis,” jelasnya saat acara pelepasan armada kemanusiaan ACT di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Kamis (19/3).

Selain pengerahan armada kemanusiaan, ACT juga bekerja sama dengan rumah makan (warteg) untuk penyediaan makanan siap santap bagi masyarakat prasejahtera dan pekerja harian. Di beberapa lokasi, seperti Jakarta Barat, Timur dan Tangerang Selatan, beberapa warteg telah berkolaborasi untuk penyediaan pangan ini.[]


Bagikan