Dampak Kekeringan Rutin di Gunungkidul

Di kemarau ini, tak sedikit warga Gunungkidul yang rela menjual hewan ternak yang telah dipelihara bertahun-tahun agar bisa membeli air dengan harga 130 ribu rupiah setiap dua pekan.

Dampak Kekeringan Rutin di Gunungkidul' photo

ACTNews, GUNUNGKIDUL Guguran daun jati di sepanjang jalan menuju Desa Pengos, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul bertebaran hingga ke jalan raya. Pohon jati menggugurkan daunnya karena sedikitnya pasokan air akibat kemarau yang sedang berlangsung di Gunungkidul. Sebagian besar pohon itu mengering tanpa daun.

Senin (12/8), di sela proses pemotongan hewan kurban di Desa Grogol, Paliyan, tim Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Gunungkidul dan Yogyakarta mendistribusikan air bersih ke Pengos. Empat ribu liter air dikirimkan menggunakan Humanity Water Tank ACT DIY.

Bukan hal mudah menuju lokasi distribusi air bersih. Medan yang dilalui berupa jalan meliuk khas pegunungan, namun gersang. Truk berbobot berat ini sesekali harus mengurangi kecepatan ketika melewati tanjakan yang cukup curam dan berbelok.


Winarno dari tim MRI Gunungkidul mengatakan, wilayah Gunungkidul banyak bebatuan karst, termasuk di Pengos, Paliyan. Kekeringan rutin terjadi di Gunungkidul tiap tahunnya. Galian sumur harus cukup dalam, namun tak ada jaminan mendapatkan air. “Di sini banyak sungai bawah tanah, air langsung meresap ke sana. Kalau gali sumur harus tembus, 100 meter belum tentu dapat juga,” ungkapnya.

Setiba di Pengos, air segera dipindahkan ke penampungan, bangunan yang dibuat serupa tandon, milik warga. Nantinya warga sekitar dapat mengambil air yang disediakan ACT sebanyak 4 ribu liter. Hari-hari biasa, tandon digunakan sebagai penampungan air hujan. Tak ada sumur di sana.

Karmujiyanto, warga Pengos, menjelaskan memang tak ada sumur di desanya. Keterbatasan ekonomi menjadi alasan pembangunan sumur, serta belum ditemukannya sumber air. Selama ini warga hanya memanfaatkan air yang ditampung menggunakan tandon buatan serta air dari perusahaan daerah air minum yang tak rutin mengalirnya.

“Warga di sini ekonominya menengah ke bawah, sedangkan untuk bangun sumur sangat mahal karena harus dalam. Kalau air dari PAM hanya memasok untuk rumah-rumah di pinggir jalan raya sana, enggak sampai masuk gang. Itu juga enggak tiap hari ngalir, kadang sepekan sekali, malah kadang sebulan sekali,” tutur Karmujiyanto.

Selama ini, untuk memenuhi kebutuhan air, warga harus rela merogoh kocek. Harganya sekitar 130 ribu per tangki ukuran 4 ribu liter yang dapat dimanfaatkan hingga maksimal dua pekan per rumah. Ketika musim penghujan, beban kebutuhan air warga terbantu. Sayang, ketika kemarau tiba, warga harus mengeluarkan uang lebih untuk kebutuhan air. Semua kebutuhan air dipasok dari pembelian. Kebutuhan ini tak hanya untuk konsumsi manusia, tapi juga hewan ternak.  

Karmuji menambahkan, ketika kemarau beban warga semakin berat untuk memenuhi air. Tak jarang, warga harus rela menjual berbagai barang berharga untuk membeli air. “Orang desa seperti ini ya harus punya tabungan hewan biasanya, Mas. Kayak ayam, kambing, atau sapi. Ini nanti bisa dijual pas kemarau buat beli air,” tuturnya, Senin (12/8).