Dapur Umum Sahabat Dermawan Siap Sediakan Makan Bagi Pengungsi di Gaza

Dalam serangan bertubi-tubi zionis Israel ke Gaza, sejumlah pabrik dan gudang makanan di Kota Gaza turut hancur. Bangunan yang disebut sebagai production bank itu merupakan tempat yang digunakan untuk mengolah sumber makanan warga Gaza. Kehancuran gedung itu berarti memicu timbulnya krisis kelaparan dalam skala yang besar di Palestina karena produksi pangan terhenti.

Dapur Umum Indonesia untuk Gaza
Relawan ACT Palestina memasakan makanan di dapur umum untuk dibagikan ke pengungsi Gaza. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Aksi Cepat Tanggap mendirikan dapur umum di sekolah Al Bahrin, Tal Al-Hawa, di Gaza Utara, yang menjadi salah satu tempat pengungsian warga Gaza. Lewat dapur umum ini, hingga 900 porsi makanan siap saji bisa dimasak tiap harinya.

"Setelah masakan matang, kami kemas dalam kotak makanan, baru kemudian kami distribusikan langsung ke para pengungsi. Insyaallah bantuan ini dapat membangkitkan para pengungsi agar terhindar dari kelaparan," ujar Said Mukaffiy dari Tim Global Humanity Response Aksi Cepat Tanggap, Senin (17/5/2021). Kualitas makanan yang dimasak di dapur umum pun diperhatikan rasa dan gizinya agar kebutuhan nutrisi para pengungsi tetap terpenuhi. Said menjelaskan, bantuan ini diikhtiarkan akan terus dibagikan dalam jangka waktu yang berkelanjutan.

Dalam serangan bertubi-tubi zionis Israel ke Gaza, sejumlah pabrik dan gudang makanan di Kota Gaza turut hancur. Bangunan yang disebut sebagai production bank itu merupakan tempat yang digunakan untuk mengolah sumber makanan warga Gaza. Kehancuran gedung itu berarti memicu timbulnya krisis kelaparan dalam skala yang besar di Palestina karena produksi pangan terhenti.

“Maka dari itu, bantuan pangan menjadi sangat penting bagi warga Palestina, karena kerawanan pangan jangka panjang  terus mengancam mereka,” pungkas Said. Berdasarkan data yang dihimpun Global Humanity ResponseACT, pada 2021 ini, 1,6 juta jiwa penduduk Palestina tidak mampu membeli makanan bergizi. Bahkan di Gaza, hampir 50 persen warganya hanya mengonsumsi mineral esensial dan vitamin yang sangat sedikit.[]