Dari Jualan Kue Basah, Is Sempat Catatkan Keuntungan Puluhan Juta Rupiah

Isnaeni (38) sempat merasakan betul berusaha dari nol. Sempat usaha kue basah yang digelutinya tidak membuahkan hasil sampai harus dibagikan cuma-cuma, kini ia mengelola tiga toko sampai sempat mencatatkan omzet Rp60 juta di bulan Ramadan.

bantuan modal usaha
Isnaeni memulai usaha di tahun 2015 dari menitipkan kue basah buatannya di warung-warung sekitar rumah. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA SELATAN – Isnaeni (38) awalnya hanya menjalani peran sebagai ibu rumah tangga. Setiap hari ibu dari empat orang anak ini mengantar jemput anaknya ke sekolah. Kala itu, terbesit sebuah ide di kepala perempuan yang akrab disapa Is ini, “Kalau sehari-hari antar anak ke sekolah, kenapa enggak sekalian taruh dagangan di sekolah, ya?" ungkapnya ketika bercerita kepada Tim Global Wakaf-ACT.

Mulailah tahun 2015 ia memproduksi kue basah atau yang disebut juga kue subuh di lingkungannya di wilayah Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Sambil mengurus keluarga suami yang hendak bekerja dan anak yang akan berangkat sekolah, ia menyempatkan waktu menitipkan kue itu di warung-warung. Di samping itu, ia juga berjualan di lapak kecil di pinggir jalan.

Tetapi penjualan kue tak langsung menunjukkan hasil. Tiga tahun berdagang, kue buatan Is masih sering tidak laku. “Kalau kuenya tidak laku, saya berikan ke tetangga-tetangga sekitar saja,” cerita Is pada akhir Juni lalu.

Di tahun keempat, atau tepatnya tahun 2019, barulah Is mendapatkan titipan pesanan yang cukup banyak. Di pertengahan tahun itu, ia juga bertemu dengan Global Wakaf-ACT yang memberikan bantuan melalui program Sahabat Usaha Mikro Indonesia (UMI).


Salah satu kedai yang kini dikelola Isnaeni. (ACTNews)

Is semakin percaya diri, menambah produksi dan menambah meja di lapaknya berjualan. Anaknya yang duduk di bangku SMA pun turut membantunya. Pendampingan usaha dari Global Wakaf-ACT diikutinya bersama sang anak untuk mengamalkan ilmu-ilmu yang disampaikan.

Pendampingan terus berlanjut lewat program Wakaf UMKM dari Global Wakaf-ACT. Pendapatan Is dari berjualan kue subuh pun mengalami peningkatan yang signifikan. “Satu hari bisa dapat omzet Rp1 juta rupiah, walaupun keuntungan per kue mungkin hanya sebesar Rp500 perak,” ucap Is.

Seperti kebanyakan pelaku usaha, ia juga sempat terdampak pandemi pada tahun 2020 lalu. Ia tetap mempertahankan usahanya walau sulit dan terbilang hampir tutup. Pendamping juga terus mengingatkan Is untuk terus berusaha dan berdoa. Sampai akhirnya kesabaran itu berbuah. “Pesanan kembali datang dari kampus, kantor, bahkan dari Bogor. Saya pun enggak tahu bagaimana bisa usaha saya bisa diketahui sampai sana,” ujar Is.

Raup Puluhan Juta Rupiah di Bulan Penuh Berkah

Per Februari 2021 lalu, terhitung Is memiliki tiga lapak di wilayah Kecamatan Jagakarsa dan sudah memiliki lima orang karyawan. Melihat Ibu Is mulai kewalahan, sang suami akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan fokus membantu usaha sang istri.

Tahun ini, berkah Ramadan turut datang untuknya. Is memproduksi kue cukup banyak sampai meraup keuntungan bersih sekitar Rp60 juta. Pascaramadan, penghasilannya memang menurun. Tetapi tak terlalu signifikan karena ia juga tetap bisa menjaga usahanya tetap stabil meski Ramadan telah berlalu.


Ia pun berterima kasih dengan hadirnya pendampingan dari Global Wakaf-ACT. “Selain mendapat bantuan modal usaha, saya bisa mendapatkan pendampingan yang ilmunya jauh lebih besar dari nominal bantuan yang saya terima,” kata Is.

Dari penghasilan selama bulan Ramadhan, ia bisa mewujudkan keinginan untuk menguliahkan dan menyekolahkan anak-anaknya ke pesantren. Usaha yang dibangun Is dari nol, dengan banyak lika-liku, kini yang menguatkan ekonomi keluarganya.

“Sekarang keluarga begitu kompak bahu-membahu membangun usaha, Sampai anak saya yang masih SD pun semangat untuk ikut mengantar pesanan-pesanan yang ada,” tutur Is. Ia berharap usahanya ini ke depannya tak hanya berkembang untuk keluarga, tetapi juga menebar manfaat untuk orang lain. []