Dari Longsor Ponorogo Bergegas ke Longsor Nganjuk

Dari Longsor Ponorogo Bergegas ke Longsor Nganjuk

Tidak sedikitpun rasa lelah menghadang. Entah apa rasanya sendi-sendi dan otot tubuh ketika dipacu bekerja lapangan, menggali dan berjibaku dengan tumpukan tanah puluhan meter. Berkotor-kotor dengan tanah merah, ditambah dengan risiko bencana longsor susulan yang mengintai setiap menitnya. Bagi siapa pun yang sedang berjibaku dengan proses pencarian korban longsor, nyawa juga taruhannya.

ACTNews, NGANJUK, Jawa Timur - Sekelumit cerita sedang bersambung dari Kabupaten Ponorogo sampai Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Dua kejadian tanah longsor terjadi hampir serempak. Hanya berselang hari setelah longsor menerjang Desa Banaran, Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo, kejadian serupa berulang di Kabupaten Nganjuk. Longsor terjadi di Area sekitar Gunung Wilis, Desa Kepel, Kabupaten Nganjuk.

Ahad (9/4) siang sekitar pukul 14.00 WIB telepon genggam punggawa Emergency Respons ACT di lokasi longsor Ponorogo tak berhenti berdering. Dalam sebuah grup WhatsApp komunikasi bencana yang diisi oleh unsur BNBP juga BPBD, ada kabar tentang longsor besar baru saja terjadi di Kabupaten Nganjuk. Kabar awal itu menyebut lima korban kemungkinan tewas tertimbun longsoran Nganjuk.

Penuturan Jahid, salah seorang relawan ACT di lokasi longsor Ponorogo, kabar itu datang hanya sekira sejam-dua jam dari kejadian longsor susulan di Desa Banaran Ponorogo. Ahad siang itu, longsor susulan di Desa Banaran memang berulang lagi. Menghempas rumah, mobil, sebuah ekskavator, juga motor para relawan.

Mengingat bahaya longsor susulan, BPBD Ponorogo akhirnya memutuskan melarang semua aktivitas pencarian korban, sampai batas waktu yang belum ditentukan.

“Allah sudah berkehendak, hanya beberapa jam setelah penutupan aksi pencarian korban longsor Ponorogo, longsor terjadi juga di Nganjuk. Tim relawan ACT segera bergegas berpindah lokasi dari Ponorogo ke Nganjuk,” ungkap Jahid, dihubungi via telepon di Desa Kepel, Nganjuk.

Dilihat di atas peta, sebetulnya jarak dari Desa Banaran ke Desa Kepel tak begitu jauh. Namun dua desa ini berada di sisi Gunung Wilis yang berlawanan. Desa Banaran Kabupaten Ponorogo ada di sisi Barat Daya Gunung Wilis, sementara Desa Kepel Kabupaten Nganjuk berada di sisi Timur Laut Gunung Wilis. Akses satu-satunya dari penghubung dua desa yang dihantam longsor ini hanya dengan memutar jauh melewati Kota Madiun dan Kota Nganjuk di sebelah utara.

Ahad itu juga, sejumlah relawan Emergency Respons ACT di titik longsor Ponorogo dikerahkan menuju titik longsor Nganjuk. Kusmayadi, leader Tim Emergency Respons ACT di Ponorogo mengatakan, selagi proses evakuasi di Ponorogo ditunda oleh BPBD karena longsor susulan, tim evakuasi bergegas menuju Nganjuk.

“Di Ponorogo yang berjaga di Posko ACT adalah tim pemulihan. Evakuasi memang ditunda, tapi pemulihan trauma dan dapur umum tetap berjalan di Desa Banaran Ponorogo,” kata Kusmayadi. 

Dari Ponorogo Bergegas ke Nganjuk,

Berlanjut ke Nganjuk, medan longsoran yang dihadapi pun tak beda jauh. Material longsor di Nganjuk menimbun badan sungai dengan ketinggian mencapai 10 meter. Longsoran ini pun membendung sungai, memicu kemungkinan bencana baru berupa banjir bandang.

Luas area longsoran di Desa Kepel Nganjuk mencapai tiga hektare, bukan area yang sempit. Area yang longsor ini sebelumnya adalah wilayah perkebunan cengkeh dan mangga yang ditanami oleh warga Desa Kepel.

Nahasnya, lima penduduk yang tertimbun longsoran merupakan anak muda berusia belasan tahun yang ketika itu dilaporkan sedang ber-selfie (swafoto) dengan latar bukit yang longsor. Rupanya sebelum longsor besar di Desa Kepel Ahad kemarin, bukit sekitar telah menjadi destinasi wisata warga sekitar untuk mengabadikan longsor pertama yang sudah terjadi sejak beberapa hari sebelumnya.

“Kabarnya anak-anak yang tertimbun longsor ini sedang selfie di dasar jurang dalam. Mereka nekat turun ke dalam jurang untuk mendapatkan gambar video terdekat dari titik longsor pertama, tapi akhirnya longsor susulan terjadi dan menimbun mereka seketika,” terang Jahid.

Sejak Ahad (9/4) sampai dengan Selasa (11/4) kemarin, Tim Relawan ACT masih bertenaga untuk melanjutkan pencarian korban longsor Nganjuk. Aksi pencarian pun dibarengi dengan pembuatan jalur air untuk mengalirkan genangan longsor yang membendung sungai.

“Kendala paling berbahaya longsor susulan masih sangat rawan, longsoran juga masih membendung sungai dan bisa berakibat banjir bandang kalau air tidak dialirkan,” kata Lukman Solehudin, punggawa senior dari Tim Emergency Respons ACT.

Hingga Rabu (12/4) kabar terkini dari Nganjuk mengatakan lima korban longsoran belum juga ditemukan. Meski sudah berhari-hari berjibaku dengan tanah merah longsoran, bergegas dari Ponorogo ke Nganjuk, bertemu dengan kendala longsor yang sama, tapi tim ACT di lokasi kejadian belum menyerah.

Lukman Solehudin, Jahid, Ghalib, Aang, Darmaji, dan Alifin punggawa relawan ACT di titik longsor Nganjuk bisa jadi sudah lupa dengan lelahnya masing-masing. Bersatu hadapi bencana, bersatu tuntaskan pemulihan bencana. Begitu semangat yang mereka jaga sepanjang hari. [] 

Tag

Belum ada tag sama sekali