Dari Penerjemah Turis, Astri Beralih Jadi Guru Honorer

“Memang (gaji guru) lebih kecil daripada translator. Namun, menjadi guru itu seperti panggilan hati, jadi senang menjalaninya meski gajinya kecil. Menjadi guru di Indonesia itu mengabdi, bukan mencari duit,” kata Astri guru honorer di Ciampea, Bogor.

Sahabat guru indonesia
Astri usai menerima bantuan biaya hidup dari Global Zakat-ACT. (ACTNews)

ACTNews, KABUPATEN BOGOR – Rasa prihatin melihat kondisi pendidikan di daerahnya, membuat Astri Jaelani meninggalkan pekerjaannya sebagai penerjemah turis mancanegara, beralih menjadi guru honorer salah satu sekolah menengah pertama di Ciampea, Kabupaten Bogor. Meski gaji guru jauh lebih kecil dibanding menjadi pramuwisata, Astri tidak mempermasalahkannya. 

Gaji guru honorer di sekolah Astri sebesar Rp300 ribu per bulan dan pembayarannya dirapel selama enam bulan. Sedangkan bayaran menjadi penerjemah Rp1 juta sekali kerja dan dibayar seketika. 

“Memang (gaji guru) lebih kecil daripada translator. Namun, menjadi guru itu seperti panggilan hati, jadi senang menjalaninya meski gajinya kecil. Menjadi guru di Indonesia itu mengabdi, bukan mencari duit,” kata Astri, Sabtu (7/8/2021).

Di samping menjadi guru honorer, Astri saat ini berjualan es di rumahnya di Kelurahan Ciampea. Keuntungan rata-rata dari berjualan es sebesar Rp30 sampai Rp50 ribu per hari. 

“Di rumah jualan es. Namanya jualan, dapatnya enggak pasti. Alhamdulillah tidak pernah kurang, ada saja buat makan sehari-hari,” ujarnya. 

Atas dedikasi dan pengabdiannya menjadi guru honorer dengan gaji pas-pasan, Global Zakat-ACT melalui program Sahabat Guru Indonesia, memberikan bantuan biaya hidup bagi Astri, awal Agustus lalu.[]