Dari Surabaya, KRI Tanjung Kambani Siap Layarkan Bantuan Kemanusiaan ACT ke Nusa Tenggara Timur

KRI Tanjung Kambani mengangkut Beras Wakaf, Air Minum Wakaf, dan puluhan ton logistik lainnya untuk penyintas banjir dan longsor di NTT. Bantuan pangan ini merupakan buah kedermawanan masyarakat Indonesia dari berbagai penjuru negeri, yang mengamanahkan melalui ACT, untuk penyintas bencana di NTT.

Truk bermuatan logistik mengantre mengantarkan bantuan ke Kapal Kemanusiaan KRI Tanjung Kambani di Pelabuhan Tanjung Perak,Surabaya, Kamis (15/4/2021)

ACTNews, SURABAYA – Bantuan terbaik sahabat dermawan untuk korban bencana di Nusa Tenggara Timur siap diantarkan melalui Kapal Kemanusiaan KRI Tanjung Kambani 971. Kapal berkapasitas 7.138 ton ini akan melaju pada Kamis (15/4/2021), dengan titik keberangkatan dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur, menuju Pelabuhan Lewoleba, Kabupaten Lembata, NTT. KRI Tanjung Kambani mengangkut Beras Wakaf, 1000 karton Air Minum Wakaf, dan puluhan ton logistik lainnya.

Sebelum melaju menuju NTT, KRI Tanjung Kambani secara simbolis dilepaskan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di dermaga Tanjung Perak bersama dengan Pangdam V Brawijaya Mayor Jenderal TNI Widodo Iryansyah, Tim ACT Jawa Timur, dan Masyarakat Relawan Indonesia.

Kepala Regional ACT Jatim Bali Nusra Diki Taufik menjelaskan, bantuan pangan ini merupakan buah kedermawanan masyarakat Indonesia dari penjuru negeri yang diamanahkan melalui Aksi Cepat Tanggap. Setiba di Lembata nanti, bantuan akan di distribusi tim dan relawan ke berbagai kabupaten. Tim juga terus melakukan koordinasi terkait penyambutan bantuan yang diperkirakan tiba pada Ahad 18 April nanti. 

“KRI Tanjung Kambani membawa amanah besar dari masyarakat, yang merupakan buah kerjasama ACT dan pemerintah Jawa Timur, Polda Jawa Timur, dan Kodam V Brawijaya, dan para donatur,” ujar Diki.

Bencana dampak cuaca ekstrem Siklon Tropis Seroja yang melanda NTT awal April lalu mendampak lebih dari 12 ribu jiwa di Nusa Tenggara Timur. Banjir, longsor, hingga angin merusak sejumlah permukiman warga di 11 kabupaten dan kota di NTT. Per Kamis (15/4/2021), BNPB melaporkan 181 orang meninggal dunia dan 47 orang dinyatakan hilang akibat bencana tersebut.[]