Darurat: Banjir Besar Terjang Negeri Muslim Sierra Leone

Darurat: Banjir Besar Terjang Negeri Muslim Sierra Leone

ACTNews, FREETOWN - Belum genap 24 jam lalu, mitra Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Sierra Leone mengirimkan kabar darurat: banjir besar baru saja melumpuhkan Kota Freetown, ibu kota Sierra Leone. Negeri di bagian tepian Pantai Barat Afrika itu lumpuh total setelah hujan begitu lebat turun lewat tengah malam, Senin (14/8) kemarin.

Hanya berselang hitungan jam setelah banjir dahsyat menerjang, Presiden Sierra Leone Ernest Bai Karoma mengabarkan lewat media ke seluruh dunia bahwa negerinya kini “sangat butuh dukungan dan bantuan darurat”.

 

Dari rekaman video yang dikirimkan mitra ACT langsung dari Sierra Leone, aliran banjir bandang datang bak tsunami. Derasnya air banjir membawa lumpur deras menyapu apapun benda, rumah, mobil di jalan utama Kota Freetown.

Perkiraannya, jumlah korban tewas akibat banjir bandang di Kota Freetown Sierra Leone ini bisa mencapai ribuan korban jiwa.

“Sejumlah desa habis disapu banjir lumpur, tidak bersisa sama sekali, wiped out,” kata Presiden Karoma pada sejumlah media internasional, seperti dikutip dari laman Al Jazeera. Kronologinya dimulai sejak Senin dini hari waktu Sierra Leone. Hujan lebat turun berjam-jam, sampai akhirnya membuat tebing tinggi longsor berulang-ulang. Longsor meluas membuat limpahan air dari bukit-bukit di sekitar Sierra Leone turun deras menyapu habis kota.

Hingga kabar ini diunggah, mitra ACT di Sierra Leone mengatakan jumlah korban akibat banjir bandang sudah ditemukan tak kurang 400 jasad tak bernyawa di balik tumpukan lumpur.

Jutaan ton lumpur

Mengutip pernyataan otoritas setempat, Sulaiman Parker selaku petugas lingkungan di Kota Freetown menyatakan ada laporan 600 jiwa masih hilang belum ditemukan di balik jutaan ton lumpur. “Sampai berhar-hari ke depan mungkin bakal ditemukan ribuan lagi jasad di balik lumpur banjir itu, banyak desa habis disapu tidak bersisa” kata Sulaiman.

Melansir juga Al-Jazeera, Paolo Conteh Menteri Dalam Negeri Sierra Leone mengatakan, hampir 48 jam pasca kejadian, laporan yang masuk menyatakan ada ribuan jiwa hilang di Kota Freetown.

“Kami di Sierra Leone berpacu dengan waktu. Lumpur itu menyapu habis sekian banyak komunitas. Lebih banyak lagi lumpur yang menumpuk akan berakibat sangat buruk bagi kesehatan warga yang selamat dari banjir bandang senin kemarin,” kata Paolo Conteh.

Sierra Leone, negeri dengan mayoritas 78% Muslim

Bukan hanya menyapu habis desa, sekolah, rumah sakit, meluluhlantakkan hampir seantero Kota Freetown, banjir besar Senin kemarin pun membuat lumpuh ratusan masjid di Sierra Leone. Ya, mayoritas penduduk Sierra Leone adalah Muslim.

Data dari tahun 2010 yang dirilis pemerintah Sierra Leone menyebut, sekira 78% penduduk negeri itu adalah penganut Muslim Sunni, sementara sisanya adalah Kristiani. Hanya ada dua agama ini yang diakui negara.

Satu hal yang hebat, meski mayoritas Muslim dan minoritas Kristiani, konflik tidak pernah bermula di negeri ini karena alasan agama. Mitra ACT di Sierra Leone mengatakan, negerinya termasuk kategori negara dengan toleransi beragama paling damai sedunia. Masjid bersuara lantang di waktu salat, sementara gereja pun tak pernah terganggu atau mengganggu mayoritas Muslim.

Idul Fitri, Idul Adha, maulid Nabi Muhammad SAW, hari Natal, Paskah, dan hari kebesaran agama Muslim dan Kristiani lain pun menjadi hari libur di Sierra Leone.  

Tapi hari ini, hanya hitungan hari sebelum perayaan Idul Adha di Sierra Leone, duka datang dari negeri Muslim di Afrika Barat itu. Sierra Leone lumpuh dipendam lumpur dihantam bandang. Masjid tak lagi bersuara lantang di lima waktu salat di Kota Freetown. []

sumber gambar: Al-Jazeera
Tag

Belum ada tag sama sekali