Darurat Bencana Banjir dan Longsor untuk Kabupaten Limapuluh Kota

Darurat Bencana Banjir dan Longsor untuk Kabupaten Limapuluh Kota

“Sangat dibutuhkan bantuan dapur umum, untuk tangani sekitar 2000 KK warga Pangkalan yang terisolir,”

 

ACTNews, LIMAPULUH KOTA - Duka datang dari Kabupaten Limapuluh Kota. Jumat (3/3), intensitas hujan di hari itu mengguyur luarbiasa. Sungai Sempur meluap, melibas puluhan titik banjir. Longsor juga terjadi hampir berbarengan dengan meluapnya Sungai Sempur.

Sampai dengan Sabtu malam (4/3) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Limapuluh Kota merilis data sementara, banjir menerjang 10 lokasi sekaligus, sementara laporan longsoran tanah terjadi di 13 titik yang berbeda. Total 23 titik Limapuluh Kota terdampak banjir dan longsor di waktu yang bersamaan.

Melihat dampak serta skala banjir bandang dan longsor meluas signifikan, Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat sudah menetapkan status darurat bencana. Status ini berlaku sampai tujuh hari ke depan. Berlaku sejak hari Sabtu kemarin (4/3) sampai satu pekan berikutnya.

Penetapan status darurat bencana ini langsung dilakukan oleh Irfendi Arbi selaku Bupati Limapuluh Kota. Menurutnya, dampak bencana banjir dan longsor di Limapuluh Kota sudah tak bisa lagi dianggap ringan.

“Dampak bencana mengakibatkan ribuan kasus infrastruktur rusak, area pertanian hancur, dan banyak warga yang merasakan langsung dampaknya,” ungkapnya dalam rapat koordinasi bersama BPBD, TNI, Polri, Tagana, DPRD, dan unsur Darurat Bencana lainnya termasuk Aksi Cepat Tanggap, di Kota Payakumbuh, Sabtu pagi (4/3).

Sejumlah 13 titik longsor menyebar. Tujuh di antara terjadi di Nagari Koto Alam, satu titik di Sibunbun Nagari Tanjun Balik, Kecamatan Pangkalan Koto Baru. Kemudian tiga titik lainnya di Nagari Maek, Kecamatan Bukit Barisan, dua titik di daerah sebelum memasuki Kelok Sembilan, tepatnya di wilayah Air Putiah, Kecamatan Harau.

Sementara banjir bandang menerjang 10 lokasi berbeda, meliputi Nagari Sopang, Pangkalan, Gunuang Malintang, Kecamatan Pangkalan Koto baru.

Banjir juga menerjang habis wilayah Kecamatan Kapur IX, lalu Nagari Limbanang Baruah, Kecamatan Suliki, Nagari Mungka, Kecamatan Mungka. Kemudian Nagari Subarang Air, Balai Panjang dan Bukit Sikumpa di Kecamatan Lareh Sago Halaban.


Sampai dengan Sabtu sore kemarin (4/3) tragedi banjir dan tanah longsor di Limapuluh Kota sudah merenggut lima orang korban jiwa dan dua orang luka berat. Titik terparah banjir berada di Kecamatan Pangkalan. Meski banjir sudah mulai surut, namun beberapa jalur terputus menyulitkan akses menembus wilayah banjir.

Minggu pagi (5/3) Tim Aksi Cepat Tanggap untuk respons bencana Banjir Limapuluh Kota sudah mengirimkan dua tim. Tim pertama berhasil menembus jalur yang terputus di Kecamatan Pangkalan, tim menyebrangi sungai untuk menjangkau sisi yang terputus karena jalur amblas diterjang banjir.

Tim pertama dan tim kedua Emergency Response Aksi Cepat Tanggap berjibaku dengan Basarnas dan TNI mengevakuasi warga yang terisolir di sekitar Kecamatan Pangkalan. Dikabarkan masih ada banyak kendaraan yang terjebak longsoran di tepian jalan penghubung kecamatan.

“Sangat dibutuhkan bantuan dapur umum, untuk tangani sekitar 2000 KK warga Pangkalan yang terisolir,” ungkap Kusmayadi, leader tim emergency response ACT Banjir Limapuluh Kota.

Tag

Belum ada tag sama sekali