Demi Bahagiakan Keluarga di Kampung, Sumarni Rela Berjibaku di Ibukota

Selama PPKM berlangsung, pendapatan Sumarni menurun drastis. Kini pendapatannya hanya sebesar Rp50 ribu sehari, bahkan terkadang dagangan bubur sumsumnya tersisa sebab tak habis terjual.

OPG
Sumarni (61) penjual bubur sumsum di Mangga Dua, Jakarta. Ia berjualan sejak tahun 1996, (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Adalah Sumarni (61), salah seorang wanita yang harus mengadu peruntungannya di Ibukota. Setiap hari ia berjualan dengan berkeliling di kawasan Mangga Dua, Jakarta. Sambil berjalan kaki ia memutari setiap sudut kota, memasuki gang-gang sempit dan menawari bubur sumsum buatannya kepada calon pelanggan.

Sumarni sudah berjualan bubur sumsum di sejak tahun 1996, berbekal izin merantau dari suaminya. Sementara sudah sejak lama sang suami menderita sakit keras dan terbaring di rumah. Setiap hari, hasil jualannya ia kumpulkan untuk diberikan kepada keluarganya di Klaten, dan sebagian ia sisihkan untuk bertahan hidup di Jakarta.

Tetapi sudah sekitar dua pekan pemerintah menerapkan kebijakan PPKM Darurat se-Jawa-Bali. Dampak kemudian terasa bagi mereka para pejuang nafkah, termasuk Sumarni. Ia bercerita selama PPKM berlangsung, pendapatannya menurun sangat drastis.

Saat ini setelah berkeliling dari pagi hingga siang, ia  hanya mampu membawa pulang sebesar Rp50 ribu. Tak jarang barang dagangannya justru tersisa sebab tak terjual. “Kebijakan PPKM seperti  sekarang ini memang agak sulit ya cari uang, tapi Alhamdulillah sehari masih bisa dapat 50 ribu,” kata Sumarni pada Senin (19/7/2021).

Sudah sejak dua minggu pemerintah menerapkan kebijakan PPKM Darurat se Jawa-Bali. Kebijakan ini berupa pengetatan untuk mengurangi kegiatan masyarakat. Tidak ada maksud lain dari pemerintah selain untuk menahan laju lonjakan kasus Covid-19 yang semakin tinggi.

Pembatasan ini berimbas kepada semua sektor. Dampak juga dirasakan bagi para karyawan yang terkena PHK, para ojek daring hingga para pelaku UMKM. Tentu, Sumarni yang hanya seorang penjual bubur sumsum keliling, termasuk salah satu dari mereka.

Selama PPKM berlangsung, Sumarni bercerita bahwa pendapatannya menurun sangat drastis. Kini pendapatannya hanya sebesar 50 ribu sehari. Padahal ia mulai berkeliling pukul 06.00 WIB sampai bubur habis sekitar pukul 13.00 WIB. Dua minggu PPKM berlangsung, bubur sumsum kadang tak habis dan bahkan sisa.

Pada hari itu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) melalui program Operasi Pangan Gratis didukung armada kemanusiaan Humanity Food Truck, membagikan ratusan paket makanan siap saji untuk warga Mangga Dua Selatan. Sumarni pun menjadi salah satu penerima manfaat.

Ia tampak bahagia bisa mendapat bantuan pangan gratis dari para dermawan Indonesia yang disalurkan melalui ACT. Ucap syukur juga ia sampaikan dan berharap Indonesia baik-baik saja. “Terimakasih ACT atas makanan yang lezat dan bergizi ini. Saya jarang makan makanan lezat seperti ini. Saya bersyukur hari ini mendapat bantuan makan. Berharap agar pandemi ini segera berakhir dan kembali pulih,” ujarnya. []