Demi Penuhi Kebutuhan, Rofiah Lampaui Risiko dalam Berjualan

Dengan lapak sebesar 2x1 meter di pinggiran Pasar Larangan, Rofiah (35) menjualkan sayur-sayurnya. Namun tak jarang, sayuran yang ia jajakan berakhir rusak baik karena saat ini pembelinya sedang sepi, maupun karena hal lain seperti hujan.

rofiah
Rofiah sedang berdagang sayur di Pasar Larangan, Sidoarjo. (ACTNews)

ACTNews, SIDOARJO – Sebagai distributor pangan, khususnya sayur-mayur, tentunya harus selalu siap menghadapi risiko produk rusak. Namun bagi pelaku usaha mikro, setiap kerusakan yang terjadi pada produk akan menjadi kerugian yang besar karena berapa pun nominalnya akan sangat berharga bagi kehidupan mereka.

Hal itu yang dirasakan Rofiah (35), ibu rumah tangga yang membantu sang suami mencukupi kebutuhan hidup keluarga dengan berjualan sayur di Pasar Larangan, Sidoarjo. Setiap sayur yang rusak akibat cuaca atau kondisi lain berarti berkuranglah biaya kehidupan satu hari keluarganya. “Karenanya ia biasa berjualan pagi-pagi sekali agar sayuran yang dijual masih segar dan pembeli yang datang banyak,” terang Dany dari Tim Program Global Wakaf – ACT Sidoarjo pada Selasa (2/3/2021) lalu.

Dengan lapak sebesar 2x1 meter di pinggiran Pasar Larangan, Rofiah menjual sayur-sayurnya. Hal berat yang tak bisa ia hindari saat berjualan adalah hujan. Saat hujan, barang dagangannya cepat rusak karena tak ada terpal atau tenda yang memadai untuk melindungi dagangannya. “Apalagi di musim penghujan seperti saat ini, ditambah harga sayuran yang terus naik sehingga tak jarang modalnya tak kembali,” jelas Dany.


Belum lagi jika penyebab-penyebab tersebut menyisakan dagangan yang tak laku, sehingga sayur-sayur itu rusak karena terlalu lama tak terbeli konsumen. Tak jarang pula ia kehabisan modal karena uang yang seharusnya digunakan untuk membeli barang dagangan terpakai untuk kebutuhan sehari-hari di tengah kesulitan ekonomi selama masa pandemi. Dalam sehari, ia hanya mendapat penghasilan bersih sekitar Rp30 ribu - Rp50 ribu. Peluang keuntungan itu semakin mengecil setelah pemberlakuan PSBB pertama kali.

Lika-liku, suka-duka, dan ujian selama berjualan sayuran telah dialaminya selama 10 tahun, tetapi tak juga menyurutkan semangatnya. Ia masih berharap bisa melebarkan sayap usahanya ini. Namun memang keterbatasan biaya menjadi hal yang tak bisa ia pungkiri. Oleh karenanya, Dany berharap ke depannya Global Wakaf – ACT dapat menyalurkan bantuan untuk Rofiah melalui program Wakaf Modal Usaha Mikro Indonesia (UMI).

“Kami berharap ke depannya dapat membantu para pelaku UMKM seperti Ibu Rofiah sehingga ke depannya, usaha mereka dapat berjalan lancar terutama dari segi modal,” harap Dany. []