Dengan Wakaf Tunai, Tak Tunggu Kaya untuk Berwakaf

Fleksibelnya wakaf tunai membuat jenis wakaf ini dapat dilakukan siapapun, kapanpun, di manapun dengan nominal yang terjangkau.

Wakaf tunai yang diterima nantinya dapat digunakan untuk pengelolaan dan pembangunan aset wakaf. Sumur Wakaf salah satunya.
Ilustrasi. Wakaf tunai yang diterima nantinya dapat digunakan untuk pengelolaan dan pembangunan aset wakaf. Sumur Wakaf salah satunya. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Gencarnya berbagai gerakan wakaf belakangan ini, membuat sejumlah pihak berharap momentum ini dapat menjadi sarana edukasi. Bahkan lebih jauh lagi, masyarakat dapat langsung berpartisipasi, terutama dalam wakaf uang.

Sebab Dr. Irfan Syauqi Beik, dosen IPB untuk Program Studi Ilmu Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi Manajemen mengatakan wakaf uang adalah instrumen yang memungkinkan semua lapisan umat, baik yang kaya maupun miskin dapat berpartisipasi. 

“Untuk bisa berwakaf tanpa harus terlebih dahulu memiliki aset tetap yang mahal seperti tanah dan bangunan. Bahkan pembiasaan untuk berwakaf uang dapat dilakukan sejak dini pada anak-anak dengan mengajarkan mereka untuk mewakafkan sebagian dari uang jajannya,” jelas Dr Irfan dalam rilisnya pertengahan Januari lalu.

Dengan wakaf uang, lanjutnya, semua lapisan umat memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan sedekah jariyah yang pahalanya tidak terputus meski seseorang telah meninggal dunia. “Inilah yang menjadi kelebihan dari wakaf uang yang harus terus menerus kita kampanyekan,” tambah Dr. Irfan.


Di sisi lain, Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) M. Nuh menjelaskan, seorang wakif bisa berwakaf berapa pun jumlahnya, kapan pun, dan untuk di mana pun. Hal itu berbeda dengan wakaf tanah yang tidak memiliki sisi fleksibilitas.

"Karena kalau wakaf tanah, tidak mungkin kita wakaf tanah misalnya hanya 10 meter persegi. Tetapi kalau wakaf uang, itu bisa. Taruhlah, Rp5.000, Rp10.000, sekian juta, dan seterusnya, jadi sangat fleksibel," tutur Nuh.

Dia menambahkan, nazir juga mendapatkan kemudahan dalam pengelolaan jika yang diwakafkan itu uang. "Tidak harus uang fisik tetapi bisa melalui perbankan, dan kita bisa mendapatkan hasil dari uang yang sudah dikelola, baik melalui instrumen perbankan, deposito, atau instrumen keuangan, sukuk, dan lainnya," ujarnya.

Dari sisi penerima manfaat juga terdapat kemudahan. Di mana pun mereka berada, tetap bisa mendapat manfaat. Meski sumber dana wakaf itu berasal dari daerah lain yang berjauhan. "Misalnya wakaf uang dikembangkan di Jakarta, ini bisa dipakai untuk pengembangan di Papua sana," jelas Nuh. []