Derita Lansia Palestina Bertahan di Hebron, Tepi Barat

Israel menerapkan aturan ketat di beberapa wilayah di Hebron, Tepi Barat. Puluhan ribu warga Palestina dilarang mengemudikan kendaraan. Bahkan, ambulans untuk warga Palestina dilarang melintas.

israel larang palestina menggunakan mobil
Ilustrasi. Lansia di Hebron, Tepi Barat, menanggung beban berat untuk tinggal di sana. (Dok. AFP)

ACTNews, TEPI BARAT – Menjadi warga Palestina yang tinggal di Tepi Barat bukanlah hal mudah, terkhusus bagi para lansia. Banyak peraturan Israel yang sangat memberatkan para lansia di Palestina.

Kondisi itu dirasakan Tayseer Zahdeh (60), warga Palestina yang tinggal di daerah Hebron, Tepi Barat. Hebron dikenal sebagai salah satu daerah yang ditinggali sekitar 33 ribu warga Palestina, namun beberapa wilayahnya dikuasai penuh oleh Israel. Termasuk di wilayah kediaman Zahdeh.

Israel melarang warga Palestina untuk menggunakan kendaraan. Ketika berangkat atau pulang dari bekerja, Zahdeh harus memarkir kendaraan ratusan meter dari jarak rumahnya. Di usia tuanya, Zahdeh harus tertatih-tatih menempuh jarak yang jauh setiap hari.

Zahdeh menceritakan, ia telah tinggal di lingkungan pemukim Tel Rumeida di Kota Tua Hebron sejak ia masih kecil. Ia juga telah menyaksikan banyak warga Palestina yang telah meninggalkan wilayah tersebut karena tidak tahan dengan aturan nyeleneh dan ancaman dari zionis Israel.

“Otoritas pendudukan Israel menyatakan lingkungan kami sebagai zona militer tertutup. Penderitaan kami telah dimulai sejak itu. Salah satu kekhawatiran utama saya adalah jika suatu hari saya membutuhkan ambulans, namun tidak mungkin mencapai rumah saya,” cerita Zahdeh.

Zahdeh pun mengenang kisah tetangganya yang kehilangan ayah karena aturan tak berdasar. Israel melarang ambulans ke permukiman mereka.  Tetangga Zahdeh pun tak terselamatkan karena serangan jantung.

“Karena orang-orang Palestina dilarang oleh tentara Israel mengemudikan mobil mereka di lingkungan itu. Tetangga saya harus membawa ayah mereka dan berlari sejauh ratusan meter untuk menyeberangi pos pemeriksaan militer untuk mencapai ambulans, tetapi ayah mereka mengembuskan napas terakhir sebelum mereka sampai di sana.” kenang Zahdeh.

Daerah tersebut juga diketahui tidak memiliki fasilitas medis khusus. Segala upaya untuk membangun rumah sakit atau klinik di sana selalu dilarang oleh zionis Israel.

Sementara itu, ratusan pemukim Israel yang juga tinggal di wilayah tersebut justru diberikan kebebasan dan hak istimewa penuh dan di bawah perlindungan pasukan Israel. Para pemukim dilaporkan kerap melakukan serangan ke rumah-rumah warga Palestina.

Zahdeh tidak bisa duduk di rumahnya tanpa memastikan bahwa semua pintu terkunci untuk melindungi keluarganya dari serangan tak terduga pemukim Israel.

“Meskipun kami mengunci pintu, para pemukim melemparkan batu dan botol kaca ke jendela kami. Beginilah kami tinggal di sini sejak para pemukim datang ke daerah itu pada 1990-an,” cerita Zahdeh.

Salah satu organisasi kemanusiaan Palestina menyatakan bahwa tindakan Israel di jantung Hebron telah menyebabkan penutupan sebanyak 1.800 toko. Sejumlah 530 di antaranya ditutup paksa atas perintah pasukan Israel.[]