Derita Palestina dalam Belasan Tahun Blokade Israel

Derita Palestina dalam Belasan Tahun Blokade Israel

ACTNews, GAZA – Krisis kemanusiaan yang terus menekan kehidupan warga Gaza tidak membuat semangat juang mereka berkurang.  Gaza selalu memiliki harapan dan kepercayaan bahwa umat Muslim akan tetap menolong dan mendukung perjuangan mereka. Hal itu disampaikan Imam Masjid Qubaa Gaza Syekh Asad Khalil Hammouda dalam wawancara eksklusif dengan ACTNews, Februari lalu.

“Gaza tidak memiliki banyak harta, senjata, perlengkapan, sumber daya, tetapi Gaza memiliki keimanan kepada Allah, tekad, kekuatan yang besar, keberanian, dan pertolongan Allah,” tegas Syekh Asad, Jumat (22/2). Menurutnya, keyakinan itulah yang tetap menjaga semangat perjuangan masyarakat Gaza di tengah blokade 12 tahun ini.

Blokade membuat Gaza tidak memiliki ketahanan pangan. Blokade juga membuat air di Gaza terkontaminasi. “Sebanyak 97 persen sumber air di Gaza tidak layak dikonsumsi,” lanjut Syekh Asad. Program Pangan Dunia PBB menyatakan, lebih dari 50 persen populasi di Gaza mengalami kerawanan pangan.

Keadaan itu pun diperparah dengan tidak adanya sumber listrik. Syekh Asad menyebutkan, listrik hanya mengalir empat jam sepanjang hari. “Sementara selama 20 jam sisanya tidak ada aliran listrik. Gaza diselimuti oleh kegelapan dari Utara sampai Selatan,” ungkap jurnalis Palestina itu.

Sykeh Asad mengatakan, tidak adanya sumber listrik sangat melumpuhkan kehidupan masyarakat Gaza. Anak-anak terpaksa membaca dengan cahaya seadanya. Mereka harus belajar hanya dengan penerangan lilin atau sedikit cahaya dari ponsel.

“Saya teringat dulu ketika awal mula diberlakukannya blokade dan saya masih sekolah saya pernah belajar seperti itu menggunakan lilin dan senter kecil yang mana membuat mata lelah. Dengan cara ini saya sulit membaca,” kenang Syekh Asad. Masalah listrik juga melayuhkan aktivitas medis. Ketidaktersediaan listrik membuat sejumlah rumah sakit di Palestina kewalahan menangani pasien.

Blokade juga membuat Gaza menghadapi kekurangan kebutuhan pokok dasar dan layak. “Tengok juga keadaan para pasien di Gaza yang tidak mendapatkan obat-obatan. Bayangkan ketika anak anda yang masih kecil perlu untuk medapatkan pengobatan. Atau lansia yang membutuhkan obat namun mereka tidak bisa mendapatkannya,” kata Syekh Asyad. Ia pun menyebut tragedi kemanusiaan di Gaza sebagai “penyiksaan massal dan suatu kejahatan terparah”.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) terus berikhtiar meredam penderitaan yang diterima masyarakat Gaza, salah satunya dalam penanganan masalah pangan. Awal Maret lalu, ACT membuka gudang logistik Indonesia Humanitarian Center (IHC).

Pembukaan IHC Gaza juga menjadi upaya keberlangsungan ketahanan pangan masyarakat Gaza. Program IHC juga berdampingan dengan program pemenuhan pangan ACT yang sudah ada sebelumnya, seperti Dapur Umum Indonesia dan Humanity Card. Melalui optimalisasi IHC, ACT bertekad meningkatkan signifikasi dan jangka panjang bantuan untuk Palestina.

"Bersamaan dengan pemenuhan kebutuhan pangan, kami juga turut menyediakan bahan bakar minyak untuk generator listrik di rumah sakit, bantuan bagi penyandang disabilitas, layanan medis serta ragam bantuan lainnya," kata Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response (GHR) - ACT. []