Dermawan Indonesia Konsisten Beri Dukungan Kemanusiaan untuk Uighur

Sesuai peran, Aksi Cepat Tanggap dan dermawan Indonesia berikhtiar konsisten mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk diaspora Uighur.

Dermawan Indonesia Konsisten Beri Dukungan Kemanusiaan untuk Uighur' photo
Aksi Cepat Tanggap memberikan beasiswa langsung kepada diaspora pelajar Uighur di Turki. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA Bantuan kemanusiaan untuk diaspora Uighur menjadi dukungan regular yang diberikan Aksi Cepat Tanggap sejak Desember 2018. Bantuan tersebut meliputi paket pangan, beaguru, beasiswa, bantuan musim dingin, ataupun biaya hidup untuk para yatim. Firdaus Guritno dari Tim Global Humanity Response (GHR) – ACT menerangkan, Desember ini bantuan kemanusiaan kembali diberikan untuk diaspora Uighur di Turki.

“ACT sedang dalam proses persiapan implementasi bantuan musim dingin berupa bahan bakar dan paket pangan untuk diaspora, terutama anak-anak yatim Uighur di Turki. Saat malam hari, kota-kota di Turki  bisa mencapai suhu minus lima derajat Celsius,” terang Firdaus.

Selain bantuan musim dingin, Firdaus mengatakan, ACT telah berkomitmen mendukung kehidupan diaspora Uighur. Bantuan kemanusiaan yang diberikan pun beragam, termasuk dukungan untuk madrasah-madrasah tempat guru dan anak-anak Uighur belajar dan mengajar, biaya hidup keluarga yatim dan prasejahtera, atau pun beaguru.

“Tahun 2017, kurban dermawan Indonesia sampai kepada saudara-saudara Uighur di Turki. Mulai 2018, kita rutin mengirimkan bantuan untuk Uighur,” terang Firdaus.

Isu Uighur kembali menyeruak pada Desember ini, sebagaimana tahun lalu, isu Uighur menarik perhatian dunia dan sejumlah kalangan di Indonesia usai sejumlah media internasional memberitakan.

Dilansir dari Japantimes, seorang mangaka Jepang  Tomomi Shimizu membuat komik berjudul "Apa yang terjadi pada saya" berdasarkan kesaksian seorang perempuan Uighur yang kembali setelah melahirkan tiga bayi kembar di Mesir ke Cina. Dalam komik tersebut dikisahkan perempuan itu mengalami tindakan represif dan penyiksaan di waktu yang berbeda pada 2015 dan 2017. Manga tersebut telah dilihat hampir 2,5 juta orang sejak pertama kali diunggah ke Twitter akhir Agustus lalu.

Sementara itu, Amnesty International juga terus menggaungkan advokasi kebebasan beribadah muslim Uighur di Cina, termasuk berpuasa saat Ramadan. Dikutip dari pemberitaan Amnesty International Mei lalu, jurnalis Radio Free Asia Gulchehra Hoja baru sepenuhnya menjalani ibadah Ramadan setelah dia pindah ke Amerika Serikat.

“Saya ingat hanya orang tua seperti nenek saya sedang berpuasa dan berdoa kepada Allah untuk mengampuni anak-anaknya karena tidak berpuasa. Sekarang giliran saya untuk terus berdoa untuk keluarga saya dan seluruh orang Uighur,” cerita Hoja seperti ditulis Amnesty International. []


Bagikan