Dermawan Indonesia Sapa Orang Tua Muslim Tunggal di Thailand

Represi militer kerap dialami sejumlah muslim minoritas di wilayah Thailand Selatan. Selain hidup dalam tekanan politik, sebagian keluarga muslim di Thailand hidup dalam keadaan prasejahtera. Desember ini, Aksi Cepat Tanggap menemui sejumlah keluarga, termasuk para ibu yang telah menjadi orang tua tunggal.

Dermawan Indonesia Sapa Orang Tua Muslim Tunggal di Thailand' photo
Sucita Ramadinda dari Global Humanity Response – Aksi Cepat Tanggap memberikan bantuan hidup amanah dermawan Indonesia pertengahan Desember lalu kepada perwakilan ibu tunggal di Pattani, Thailand. (ACTNews)

ACTNews, PATTANI, YALA, NARATHIWAT – Syahida menyambut kedatangan tim Global Humanity Response (GHR) - ACT dengan raut sumringah. Ia adalah penduduk Thailand Selatan, tepatnya di Narathiwat. Di balik seulas senyum Syahida, sisa duka masih menyelimuti dirinya. Suami Syahida syahid ditembak militer saat ia sedang mencari kayu bakar di hutan, Senin (16/12) lalu.

“Almarhum suami ibu Syahida bersama dua temannya adalah pemotong pohon di bukit. Mereka pamit untuk mencari kayu ke hutan. Sore hari, ibu Syahida mendengar kabar bahwa suami meninggal ditembak oleh tentara Thailand dengan tuduhan pejuang pemberontakan Patani dan melakukan perlawanan. Tuduhan tidak benar itu kemudian diklarifikasi kembali oleh pihak tentara Thailand, bahwa mereka melakukan kesalahan dengan menembak orang yang mereka kira pemberontak, padahal hanyalah warga sipil,” cerita Sucita dari tim GHR - ACT, Senin (30/12).

Tim GHR – ACT mengunjungi Patani, Yala, dan Narathiwat pada Jumat dan Sabtu pekan lalu. Tim mengunjungi rumah-rumah janda dan anak yatim muslim Patani di tiga provinsi yang kini tengah di bawah Undang-Undang Darurat Militer Pemerintah Thailand.

“Yang kami temui, banyak tentara Thailand berjaga-jaga di banyak check point di sepanjang jalan, baik di jalan-jalan besar hingga ke di pedalaman kampung,” terang Sucita.

Begitu juga penampakan tentara yang terlihat saat tim mengunjungi rumah Syahida. Tentara Thailand dan orang-orang berkemeja tampak ramai di sepanjang jalan masuk ke rumah Syahida. Ternyata saat itu pemerintah dan tentara Thailand sedang datang menyantuni keluarga korban salah tembak tentara Thailand,” terang Sucita.

Syahida adalah satu dari ribuan janda di Patani yang kini menanggung beban hidup keluarga seorang diri. Sucita menjelaskan, banyak anak yatim yang tidak lagi memiliki orang tua karena tuduhan-tuduhan yang tidak terbukti dari tentara terhadap ayah mereka. “Beberapa kasus tembak mati, tidak sedikit ditembak di depan rumah atau di depan keluarga mereka sendiri. Istri dan anak-anak pun menjadi trauma dengan kejadian yang menimpa keluarga mereka,” tegasnya.

Untuk mengurangi beban hidup dan penderitaan para keluarga yang ditinggalkan, selanjutnya insyaallah ACT akan terus menyalurkan 100 bantuan pangan dan santunan untuk anak yatim muslim di Thailand Selatan.[]


Bagikan