Desa Sukatenang Langganan Kekeringan

Desa Sukatenang, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi, kerap kali kehabisan air ketika menghadapi kemarau. Ditambah kualitas air yang kurang baik, warga harus menumpang ke rumah warga lainnya atau membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan harian.

Desa Sukatenang Langganan Kekeringan' photo
Salah satu jalan di Kampung Babakan, Desa Sukatenang. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, BEKASI – Ustaz Agus berandai-andai menggunakan ranting. Ia menggambar satu garis di tanah yang ia sebut sebagai Sungai Bekasi. Sungai tersebut mengalir ke titik di bawah garis yang ia sebut sebagai Desa Sukatenang. Kemudian ia menggambar lagi satu garis yang memotong garis pertama. Garis itu ia sebut sungai yang kedua dan baru muncul pada tahun 1981. Sungai baru bermuara ke laut serta menyedot seluruh aliran sungai pertama.

“Sehingga, semenjak tahun 1981, tidak ada lagi aliran ke bawah, termasuk ke Kampung Babakan, Desa Sukatenang. Semua airnya mengalir langsung ke laut. Maka sungai itulah yang sekarang kita kenal dengan Kali Mati Bekasi,” jelas Ustaz Agus selaku Koordinator Pembangunan Sumur Wakaf di Kampung Babakan pada Ahad (5/7) sore itu.

Imbasnya hampir setiap tahun di musim kemarau, kampung yang berada di Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi itu kehabisan air sama sekali karena tak punya sumber air dari sungai. Ditambah resapan air juga sedikit dan kualitasnya kurang baik.

“Jika dibangun sumur dangkal sekitar 10-12 meter, itu ada airnya, tapi rawan kekeringan saat kemarau. Jika dibangun di kedalaman 13-90 meter, itu payau dan kualitasnya kurang bagus. Jadi memang mesti dalam sekalian, 100 meter ke bawah. Kita juga tidak tahu kenapa bisa payau. Padahal jauh dari pantai,” Ustaz Agus menjabarkan.

Sementara mayoritas warga baru mampu memiliki sumur dangkal. Otomatis saat kemarau, warga seringkali mengantre demi mendapatkan air di tetangganya atau masjid yang memiliki sumur dalam.


Eti, salah satu penerima manfaat sedang mencuci piring di Sumur Wakaf. (ACTNews/Reza Mardhani)

Hal yang itu diakui oleh oleh Eti, salah satu warga. Air di rumahnya sering kering. Ia jadi sering memanfaatkan air di rumah tetangganya ataupun orang tuanya. Tak jarang, ia juga mengambil air ke musala atau membeli seharga Rp3 ribu untuk setiap jeriken.

“Ambil air di rumah tetangga, atau di musala. Kemarin juga menumpang ke orang tua atau ke tetangga. Dan memang sering kering juga airnya,” kata Eti.

Belum lagi air juga sangat memengaruhi perekonomian. Karena mayoritas warga di sana bekerja sebagai buruh tani, sementara sawah ladang yang mereka garap adalah tadah hujan. Sehingga tak heran, musim tanam di Kampung Babakan hanya satu tahun sekali.

“Kalau sudah benar-benar kemarau panjang dan kering, ya sudah lahannya ditinggal saja. Warga pada pergi cari kerja yang lain. Paling banyak serabutan atau berdagang, entah ke Jakarta atau ke tempat lain,” cerita Ustaz Agus.


Global Wakaf – ACT berikhtiar memutus kesulitan air di Kampung Babakan. Sebanyak 28 keluarga menerima Sumur Wakaf di saatmenjelang musim kemarau ini. “Di mana satu Sumur Wakaf tidak hanya digunakan untuk satu keluarga, tetapi bisa dipakai lebih dari satu bahkan dua kepala keluarga,” kata Ustaz Agus.

Eti yang menjadi salah satu penerima manfaat bersyukur pada hari itu atas hadirnya Sumur Wakaf. Dengan adanya Sumur Wakaf ini, ia jadi lebih mudah melakukan kegiatan mencuci maupun sanitasi di rumahnya.

“Alhamdulillah, saya girang dapat sumur ini. Bisa berguna ketika mencuci piring, mencuci baju, dan ambil air wudu. Ada juga tetangga saya yang memanfaatkan di sebelah rumah. Kadang-kadang kan anak tetangga yang mandi atau ambil air wudu juga bisa di sini,” ujar Eti. []


Bagikan