Di Gaza, Mereka Amat Membutuhkan Bantuan Medis

Heyam Al Motawaq dan Hassan Shaban adalah sejumlah pasien di Klinik Indonesia yang amat membutuhkan dukungan kesehatan.

Di Gaza, Mereka Amat Membutuhkan Bantuan Medis' photo
Ilustrasi. Tim dokter Klinik Indonesia di Gaza melakukan tindakan medis pada seorang pasien. (ACTNews)

ACTNews, JABALIA – Heyam Al Motawak (57) terus berikhtiar demi kesembuhannya. Perempuan baya yang tinggal di Kamp Jabalia itu sudah berjuang lebih dari 30 tahun melawan penyakit-penyakitnya.

Salah satu kaki Heyam diamputasi karena diabetes melitus, ia juga menderita kanker payudara dan menjalani kemoterapi di Tepi Barat. "Saya membutuhkan bantuan medis yang amat mendesak. Saya membutuhkan obat dan tindak lanjut jangka panjang,” cerita Heyam kepada mitra ACT di Gaza Januari 2021.

Selain dalam hal kesehatan, Heyam dan keluarganya harus berjuang dalam hal ekonomi, Sebagai pengungsi, mereka tidak memiliki penghasilan memadai. Mereka pun banyak mengandalkan bantuan kemanusiaan.

Biaya pengobatan yang dibutuhkan Heyam selama berobat yakni sekitar 100 USD, atau Rp1,4 juta. Jumlah tersebut amat berat bagi mereka yang tidak lagi memiliki penghasilan. “Kami hanya bergantung pada bantuan luar. Mohon dampingi kami. Semoga Allah memberimu kesehatan,” kata Heyam.

Setidaknya, dalam waktu dekat ini, Heyam membutuhkan kursi roda dan alat bantu jalan untuk membantunya berpindah, pergi ke kamar mandi, bergerak dari tempat tidur, atau pergi ke rumah sakit.

Cerita mereka yang berjuang sembuh juga datang dari Hassan Shaban. Ia sudah empat tahun mengalami diabetes dan  gagal jantung kongestif.

“Bahkan sekadar kasur dan kursi roda saya tidak punya. Saya juga amat membutuhkan tabung oksigen karena menderita sesak napas,” cerita Hassan. Ia pun berharap ada dermawan yang menolongnya. “Tolong jangan lupakan kami,” harap Hassan.

Klinik Indonesia merupakan salah satu program Aksi Cepat Tanggap yang memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat Gaza secara gratis. Program ini hadir berkat dukungan Sahabat Dermawan. Beberapa bulan lalu, operasional Klinik Indonesia sempat berhenti karena pandemi Covid-19 dan keterbatasan biaya, padahal kebutuhan kesehatan masyarakat Gaza tidak pernah berhenti.[]