Di Pinggiran Sanliurfa, Doa Pengungsi Suriah untuk Indonesia

Di Pinggiran Sanliurfa, Doa Pengungsi Suriah untuk Indonesia

ACTNews, SANLIURFA – Masih di sepanjang perbatasan Suriah dan Turki, aksi terus berlanjut. Kami, Tim SOS Suriah ACT ke XIV kembali memulai pagi dengan ikhtiar baru; melakukan sesuatu, menyapa keluarga Suriah yang kini menjadi pengungsi. Menyambangi mereka yang baru saja tiba, berstatus pengungsi korban konflik Suriah. Hidup apa adanya di sepanjang perbatasan.

Akhir pekan kemarin, Jumat malam (2/3) kabar datang dari mitra lokal ACT di Sanliurfa. Data yang dikumpulkan oleh tim kami dan mitra menunjukkan, ada satu wilayah pinggiran sebelah Barat Laut Sanliurfa, dihuni puluhan sampai ratusan keluarga pengungsi Suriah.

“Tapi mereka bukan menetap di kamp tenda terpal, dengan tabungan seadanya yang mereka punya, mereka menyewa flat-flat murah. Kebanyakan baru beberapa bulan tiba di Sanliurfa. Lari mengungsi dari Halep (Aleppo), Deir az Zour, Homs, Hama,” papar Muhammed, tim mitra ACT di tapal batas.

Rencana aksi segera disusun. Bantuan paket pangan dan paket musim dingin menjadi prioritas pertama. Mitra lokal ACT mengatakan, walau bernasib sedikit lebih baik ketimbang pengungsi lain yang tinggal di tenda-tenda terpal, kondisi flat mereka sebenarnya kosong. Melompong tanpa ada barang-barang sederhana sama sekali. Semisal kasur, atau selimut untuk melawan dingin.

“Karena lari dari Suriah tak sempat membawa harta apapun. Memulai semua hal di wilayah perbatasan Sanliurfa dari titik terendah. InsyaAllah amanah masyarakat Indonesia untuk pengungsi Suriah kita siapkan paket musim dingin berupa kasur dan selimut tebal,” kata Rahadiansyah, Koordinator Tim SOS Suriah ACT.

Ratusan keluarga Suriah datang dengan truk bak terbuka

Sabtu kemarin (3/3), berselang sehari pasca distribusi bantuan untuk pengungsi Suriah di kamp-kamp Akcakale, dekat border Suriah, kami sudah bergerak lagi untuk memulai aksi lanjutan.

Data-data baru, sudah didapat. Nama-nama keluarga Suriah yang lebih berhak mendapat bantuan sudah kami pegang. Targetnya adalah mereka yang baru beberapa lama ini masuk melintasi batas Suriah, menjadi pengungsi di Sanliurfa. Mungkin dalam hitungan beberapa pekan atau beberapa bulan lalu.

Merujuk data yang dipaparkan oleh mitra lokal ACT, kami mengarah ke arah Barat Laut Sanliurfa. Merapat ke lingkungan padat, kumuh, tempat ribuan keluarga Suriah kini mengungsi.

Menjauh dari keramaian Kota Sanliurfa, di Barat Laut ini yang ada hanya bentuk flat-flat kumuh. “Pengungsi Suriah menyewa flat-flat kecil ini dengan harga yang sangat murah. Karena jauh dari pusat kota. Di dalam flat mereka pun kosong,” ujar Mohammed.   

Mulanya, distribusi dilakukan dengan mengetuk pintu rumah pengungsi itu satu persatu. Namun, karena waktu yang terbatas distribusi dilanjutkan di sebuah lapangan kecil dalam ruangan (indoor). Ratusan keluarga Suriah diundang merapat ke satu titik, sementara paket-paket bantuan sudah dijajarkan di dalam lapangan.

Ramai, penuh dengan kebahagiaan. Begitu atmosfer yang terasa. Ibu, bapak, juga anak-anak Suriah datang mewakili keluarganya. Mereka datang rombongan, diangkut di atas truk kecil bak terbuka.

“Rata-rata keluarga Suriah yang kami undang untuk menerima paket bantuan dari Indonesia ini berasa dari wilayah padat di Barat Laut Urfa. Pemimpin rombongan mereka sampai menyewa truk-truk kecil untuk datang ke mari,” tutur Rahadiansyah.

Barisan paket-paket bantuan sudah dijejerkan. Masing-masing keluarga Suriah mendapat “bingkisan” yang sama. Ratusan paket berisi; sekotak bahan-bahan pangan, kasur dan selimut tebal.

Doa lagi-lagi dikirimkan untuk Indonesia. Rasa kagum mereka nampak dari guratan wajah ketika mereka bertanya dari mana bantuan ini berasal, “Ini semua dari hati orang Indonesia,” ucap tim SOS Suriah ACT ke XIV setiap keluarga-keluarga pengungsi itu bertanya.

“Indonesia? Masya Allah kalian jauh datang kemari. Terima kasih atas bantuan ini. Semoga kebaikan ini kembali lagi ke Indonesia. Allah dan Rasul-Nya bersama kalian, Insya Allah,” kata Ummi Hasna, seorang Ibu asal Aleppo, baru tiga bulan mengungsi ke Sanliurfa.

Untuk yang kesekian kalinya, di wilayah perbatasan Suriah dan Turki ini, amanah masyarakat Indonesia menyapa kembali ratusan kelurga Suriah. Rahadiansyah mengatakan, InsyaAllah tim SOS Suriah ACT akan memastikan dua hal berjalan bersamaan.

“Di sepanjang perbatasan Suriah kami sambangi lagi keluarga-keluarga pengungsi yang bernasib nelangsa. Di dalam Ghouta Timur mitra lokal ACT setiap hari mengirimkan bantuan paket pangan serupa dengan bantuan yang kami distribusikan di perbatasan ini,” pungkas Rahadiansyah.

Konflik sudah berselang lebih hampir tujuh tahun, tapi nasib ratusan ribu keluarga Suriah di sepanjang perbatasan, sama sekali belum membaik.  []

Tag

Belum ada tag sama sekali