Di Sana’a, Puluhan Ribu Liter Air Bersih Dipasok Tiap Hari

Di Sana’a, Puluhan Ribu Liter Air Bersih Dipasok Tiap Hari

Di Sana’a, Puluhan Ribu Liter Air Bersih Dipasok Tiap Hari' photo

ACTNews, SANA’A – Antreannya kini tidak lagi sepi, jeriken lusuh warna-warni itu sudah dijaga satu per satu oleh pemiliknya. Mereka menjaga selang-selang air yang terhubung dari truk tangki ke jerigen, agar tak sampai tumpah bercecer atau kepenuhan. Riuh hari itu memang berbeda, semua dimulai ketika truk tangki air dengan identitas bendera Indonesia datang merapat. Satu kalimat penegas, memuat pesan yang jelas artinya; “Clean Water for Yemen.”

Ahad (25/11), satu truk tangki berbendera Indonesia dengan muatan sekitar 5.000 liter air bersih, singgah di Al Mahwa Bani Hwat, sebuah desa di pinggiran Distrik Bani Al-Harad, Kota Sana’a, Yaman. Truk segera parkir di depan tangki penampungan yang ada di tengah desa. Selang disambung, keran pun dibuka.

Air bersih berpindah seliter demi seliter dari tangki penampungan ke jeriken yang sudah berjejer. Tawa ramah terekam dari lembaran foto-foto yang dikirimkan langsung dari Yaman. Di depan kamera, mereka berpose dengan tangan terangkat dan senyum melebar; sebuah emosi bahagia yang sederhana.

Rudi Purnomo dari Tim Sympathy of Solidarity (SOS) untuk Yaman - Aksi Cepat Tanggap (ACT) melaporkan langsung dari Kota Sana’a, truk tangki air itu rupanya sudah ditunggu sejak pagi sekali.

“Alhamdulillah setelah melalui berbagai perizinan yang rumit bahkan untuk sekadar distribusi air bersih, akhirnya bantuan dari masyarakat Indonesia ini bisa tersalurkan. Setelah azan Zuhur waktu Yaman, air bersih bisa tersalurkan. Setiap harinya, ribuan liter air bersih akan dipasok berkeliling ke pinggiran Kota Sana’a. Ahad (25/11), truk tangki air bersih Indonesia singgah di Desa Al Mahwa Bani Hwat,” tutur Rudi dalam laporannya dari dalam Kota Sana’a, Yaman.

Seperti yang sudah dituliskan sebelumnya, krisis air di pinggiran Kota Sana’a sudah berada dalam fase krusial. Di Desa Al Mahwa Bani Hwat misalnya, sudah berpekan-pekan sebelumnya, tangki air satu-satunya di tengah desa kosong tidak ada isi.

“Padahal kebutuhan air bersih di desa padat pengungsi ini sangat besar, tapi air bersih nihil. Mereka sudah mencoba menggali sumur, tapi tidak menemukan air. Kepala Desa Al Mahwa Bani Hwat bercerita kepada kami, mereka hanya mengandalkan bantuan air bersih, atau harus berjalan jauh untuk mencari air di desa lain,” cerita Rudi.

Tentang Desa Al Mahwa Bani Hwat, Rudi Purnomo – perwakilan Tim ACT pertama yang berhasil masuk di Yaman – bercerita, desa itu kini menampung ribuan keluarga pengungsi asal Hodeidah. Sejak konflik Yaman bermula tahun 2015 silam, Hodeidah telah menjadi arena pertempuran. Pasalnya, pihak-pihak yang berkonflik di Yaman ingin mengambil alih Hodeidah sebagai kota pelabuhan utama.

“Desa Al Mahwa Bani Hwat lokasi distribusi air bersih dari ACT dan Masyarakat Indonesia ini memiliki populasi sekitar 1.050 kepala keluarga. Lebih dari setengahnya adalah pengungsi perang yang berasal dari Hodeida,” papar Rudi.

Khalid Kepala Desa Al Mahwa Bani Hwat menyampaikan ucapan terima kasih dan doanya kepada seluruh masyarakat Indonesia. “Syukur kepada Allah, kalian datang membawa air bersih yang sudah sangat langka. Kondisi di sini sudah sangat kritis. Kebutuhan sehari-hari sulit ditemukan karena air bersih langka. Kolera dan penyakit kulit juga mewabah di desa ini,” kata Khalid.

Merangkum semua ucapan terima kasih dari Desa Al Mahwa Bani Hwat, Rudi mengatakan sesederhana bantuan air bersih, semua bisa tertawa bahagia. “Banyak ucapan terima kasih dan untaian doa yang dikirimkan langsung oleh ibu, bapak, dan anak-anak pengungsi Yaman yang menerima bantuan ini. Alhamdulillah,” ucap Rudi.

Kelak, dalam beberapa pekan ke depan, Rudi Purnomo dan Tim SOS-ACT untuk Yaman akan terus melanjutkan distribusi air bersih ke area pengungsian lain.

“Insya Allah distribusi air bersih untuk pengungsi internal Yaman ini akan menjadi proyek implementasi utama selain distribusi logistik. Suplai air bersih akan kita jaga agar tangki-tangki air di desa-desa pengungsian tidak sampai kosong,” pungkas Rudi. []

Bagikan