Di Yaman, Mereka Hanya Makan Air dan Minum Angin

Di Yaman, Mereka Hanya Makan Air dan Minum Angin

Di Yaman, Mereka Hanya Makan Air dan Minum Angin' photo

ACTNews, ADEN - Bagaimana rasanya bertahan hidup tanpa makanan sama sekali? Sampai sejauh mana tubuh dapat bertahan hanya dengan memakan air dan meminum angin? Ya, makan air dan minum angin, sebuah analogi yang nyata, karena memang makanan hampir mustahil didapat.  

Sekian banyak jurnal kesehatan ilmiah menuliskan, tubuh manusia dapat bertahan tanpa makan sama sekali setidaknya sampai 21 hari atau tiga pekan. Sementara itu, untuk bertahan tanpa air minum sama sekali manusia hanya bisa bertahan paling lama satu pekan. Melewati batasan itu, fungsi tubuh akan sekarat dan berakhir pada kematian. 

Bukan tak ingin makan, tapi karena kondisi yang membuatnya menjadi demikian, tidak ada makanan yang bisa didapat. Kalaupun ada, harganya luarbiasa melambung, siapa yang sanggup membelinya?

Tanda tanya ini bukan diajukan untuk sekumpulan pecinta alam yang sedang mencoba belajar bertahan hidup di tengah hidup. Tanda tanya ini adalah kenyataan yang sebenar-benarnya sedang terjadi di Yaman, negeri paling miskin di Semenanjung Arab.

Hari ini, di pertengahan Maret 2017, Yaman sedang mencapai klimaksnya. Titik puncak dari segala kompilasi masalah yang merontokkan negeri itu.

Konflik, perseteruan politik, kekeringan, hilangnya mata air, musim kemarau panjang, kelaparan akut, wabah malnutrisi, sampai wabah malaria dan demam berdarah yang membunuh anak-anak Yaman tanpa perlu melukai. Rentetan kejadian ini nyata terjadi di Yaman, sampai hari ini. Bahkan terus berakumulasi.

“Tidak ada listrik di sini, tidak ada air, tidak ada gas, tidak ada minyak bahan bakar, tidak ada yang bisa dibeli,” kata seorang lelaki di Aden, mengutip sebuah video dokumenter dari Vice.

Bukan tidak mungkin, jika dunia terlambat bergerak untuk Yaman, jika dunia hanya sekadar menyalahkan siapa yang memicu konflik dan berdebat kusir tentang siapa menyerang siapa, Yaman akan menjadi seperti Suriah. Sanaa, Aden, Taiz, Abyan dan kota-kota lain di Yaman akan menjadi serupa Aleppo di Suriah. Hancur dan mati. Hilang satu generasi. Krisis kemanusiaan di Yaman ini bukan omong kosong belaka.

Entah sudah berapa ribu jiwa anak-anak Yaman yang mati di ranjang rumah sakit karena lapar. Mereka hanya makan air dan minum angin. Tidak ada yang bisa dibeli, karena jumlah barang-barang kebutuhan pokok di Yaman merosot sampai titik terendah.

Si gadis kecil Noureldin misalnya, bocah perempuan berusia 6 bulan ini hanya bisa menangis. Tulang rusuknya terlihat jelas. Ayahnya berkata, Ia sudah sebulan di rumah sakit karena gejala malnutrisi akut.

“Kami tidak punya susu, tidak punya uang untuk membeli segelas susu untuk Noureldin. Ketika kondisinya makin memburuk, bahkan Noureldin tidak bisa untuk mengunyah makanan. Ia terlalu lemah untuk sekadar membuka mulutnya,” kata Abdullah Razeh, ayah Noureldin, seperti dikutip dari BBC di Kota Taiz.

Sejumlah catatan lembaga kemanusiaan lainnya mengatakan, Noureldin hanya satu dari 2 juta bocah Yaman yang hari ini kelaparan.

Ada lagi cerita tentang Sara, si bayi perempuan berusia 5 bulan yang divonis malnutrisi sejak sebulan setelah kelahirannya. “Sara tidak bisa berhenti menangis. Satu hal yang bisa dimakan Sara hanya air. Hanya air yang bisa Sara telan,” kata Ibu dari Si bayi kecil Sara, mengutip BBC di Kota Aden, Yaman.

Perlu diketahui, jauh sebelum konflik di Yaman meletus tahun 2015 dua tahun lalu, Yaman sudah divonis sebagai negeri dengan tingkat kemiskinan tertinggi dari seluruh negeri-negeri Arab. Sebelum tahun 2015, sekira setengah dari seluruh jumlah populasi atau 12 juta jiwa orang Yaman hidup dalam kemiskinan akut. Berstatus negara dengan ekonomi yang lemah, Yaman bertanggung penuh pada barang-barang impor yang masuk lewat kota-kota pelabuhan seperti Taiz, dan Aden di Teluk Aden.

Dan ketika konflik di Yaman meletus, makin memperburuk keadaan. Fasilitas umum hampir tidak ada lagi yang bisa diandalkan. Yaman kini menjadi zona merah dimana peluru dan artileri berat diumbar oleh pihak-pihak yang beradu ego demi keinginan pribadi.

Kantor Berita BBC menuliskan, setidaknya di seluruh kota-kota besar di Yaman ada lebih dari 600 rumah sakit yang kolaps dan ditutup permanen karena perang.

Aksi Cepat Tanggap kirim Tim Kemanusiaan ke Yaman

Bersikap dan berbuat sesuatu untuk Yaman, Aksi Cepat Tanggap sedang menyiapkan tim dan strategi diplomasi untuk masuk sampai ke Yaman. Laporan terakhir yang diterima ACT, titik darurat kelaparan Yaman berada di kota-kota dengan populasi terbanyak, meliputi Aden, Lahej, Taiz, Abyan, Sa’ada, Hajjah, Hodeidah, dan Shabwah.

Sesuai rencana yang sedang dimatangkan, Tim Kemanusiaan ACT untuk Yaman akan berangkat di antara pekan kedua dan pekan ketiga Maret 2017. Jalur laut menjadi pilihan satu-satunya akses untuk masuk ke Yaman melalui kota-kota pelabuhan di tepi Teluk Aden.

Bukan kali pertama, paket-paket logistik pangan dari Aksi Cepat Tanggap untuk Yaman sudah pernah tiba di Yaman di tahun-tahun sebelumnya. Kali ini di Maret 2017, bendera bantuan logistik berbendera merah putih akan sampai kembali ke Yaman. InsyaAllah.

Bagikan