Dihadang Pandemi, Mi Ayam Edy Temukan Jalan Lain Menuju Pelanggan

Mego Antoro (47) tidak berdagang mi ayam dan bakso lagi semenjak sekolah tutup selama pandemi. Tidak menyerah, ia dibantu anaknya kini membuat mi ayam dan bakso instan, serta memasarkan usaha tersebut melalui daring dan telah menemukan pelanggan-pelanggan baru tanpa perlu berkeliling.

Mego Antoro alias Edy Purwanto sedang menunjukkan produk mi ayamnya. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Mego Antoro (47) duduk di depan rumah seorang warga bersama warga lainnya. Mereka sibuk dengan pipa, obeng, dan lem, sementara di hadapan mereka sebuah toren air. Toren yang mengalirkan air ke warga ini tersendat sehingga Edy Purwanto, nama lain yang diberikan warga setempat untuk Mego, merasa bertanggung jawab juga membetulkannya karena dia adalah Ketua RT di lingkungan rumahnya di Kelurahan Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan.

Jika sekolah masih berkegiatan, tentu Edy akan menunda membetulkan toren pada hari itu. Ia akan mendorong gerobak mi ayam dan baksonya ke lingkungan sekolah pada pagi hari, dan berjualan hingga malam. Sudah sejak tahun 1999 gerobak mi ayamnya berjalan, tetapi setelah pandemi, gerobak Edy mogok di rumah.

“Sekolahnya libur, otomatis saya ikutan libur juga. Dari tanggal 16 Maret udah off sampai lebaran. Lebaran sempat dagang 2 minggu, omzet bukannya bertambah malah makin modalnya habis. Banyak pengurangannya. Saya biasa bawa mi 4 kilogram, laku paling 2 kilogram (saat itu),” ceritanya sembari tertawa pada Kamis (8/8) lalu.

Tetapi beberapa waktu belakangan, mi ayamnya kembali menemukan pelanggan. Anak sulungnya yang menemukan ide untuk menjual mi ayam dan baksonya dalam bentuk instan, kemudian memasarkannya di media sosial. Anaknya yang bekerja sebagai desainer grafis lepas itu juga yang sekarang membantu memasarkan mi ayam dan bakso buatan ayahnya. Moro Tresno nama produknya, lengkap dengan karikatur Edy sedang memegang mangkok di kemasannya.


Ganang sedang menunjukkan Instagram mi ayam dan bakso Moro Tresno di komputernya. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Idenya dari lihat bokap gue enggak bisa dagang, di rumah enggak ngapa-ngapain. Memang bokap gue jadi Ketua RT dan Gugus Tugas Covid-19 juga, tapi kan enggak ada uangnya (tidak cari untung). Yang penting ada aktivitas (jualan) karena kalau kita ngomongin untung jauh juga (dibanding berjualan keliling di hari normal). Tapi seenggaknya ada yang dikerjain. Gue tetap bantu dari segi promosi di Instagram,” ungkap Ganang Adi Cakra Prabowo (23), yang kini mengelola akun @mieayam_morotresno.

Hari itu ayah dan anak ini baru saja melayani pengiriman lagi kepada beberapa orang pelanggan dan stok mi ayam mereka habis hari itu. Meskipun keduanya mengaku masih jauh dibandingkan keuntungan yang biasa didapat, namun ide yang notabene hadir akibat pandemi ini ke depannya akan terus dikembangkan. Misalnya untuk saat ini pemesanan masih dalam sistem pre order (PO), ke depannya Edy ingin mi ayamnya dan baksonya ini bisa dipesan melalui aplikasi ojek daring.

“Dua-duanya kalau bisa jalan (keliling dan daring). Kalau ini kan sekarang PO doang, kalau mendadak enggak bisa. Makanya nanti kalau dua-duanya jalan ada yang bisa langsung pesan, langsung dibikin. Mau dimasukkan aplikasi ojek daring juga. Jadi maunya harusnya nanti enggak ada order PO, langsung, harus siap. Jadi sudah kepikiran ke sana,” ujar Edy. Begitu juga Ganang yang ke depannya ingin usaha ayahnya merambah tidak hanya berjualan mi ayam dan bakso.

Namun bagaimanapun, Edy tetap menyisakan optimisme pada kondisi saat ini. Selain dia yang kini terus merintis usahanya, banyak tetangganya yang lain yang terus berusaha walau terhimpit pandemi. Terbukti dari beberapa tetangganya yang meminta jasa Edy untuk dibuatkan gerobak untuk berjualan. Kini sambil menunggu vaksin ditemukan, Edy akan terus berjalan. “Yang jelas kita optimis. Kalau kerjaan tidak ada, bagaimana mau belanja? Bagaimana mau jajan?” tanyanya.


Optimisme masyarakat seperti Edy dan Ganang yang berusaha ditumbuhkan juga Aksi Cepat Tanggap (ACT) kepada masyarakat lainnya. Gerakan ‘Bangkit Bangsaku’ menjadi semangat utama ikhtiar ini dan akan terus digaungkan bersamaan dengan rangkaian aksi nyata berbagai elemen masyarakat.

Gerakan “Bangkit Bangsaku” akan fokus pada penyelamatan tiga sektor vital yang kini sangat terdampak pandemi, yakni sosial, ekonomi, dan kesehatan. Di sektor sosial, ACT lanjut menopang kebutuhan pokok masyarakat Indonesia, utamanya pangan, melalui sejumlah program pangan. Hal ini mengingat pangan menjadi kebutuhan utama yang sulit dipenuhi di masa pandemi ini akibat keterpurukan ekonomi keluarga.

“Bangsa kita butuh disemangati sebuah gerakan, penyadaran terhadap berbagai permasalahan, pembuka jalan solusi dan implementasi nyata, serta penjaga optimisme tetap menyala. Seluruh aksi ini membutuhkan kolaborasi besar berbagai elemen masyarakat. Semua anak bangsa diundang kontribusinya, menyiarkan semangat dan ide untuk bangkitkan bangsa. Bersama, kita akan gulirkan bola salju kepedulian kita untuk Indonesia,” tegas Ibnu Khajar selaku Presiden ACT pada peluncuran Gerakan Bangkit Bangsaku, Rabu (30/9) silam. []