Dilema Guru Honorer di Bogor, Antara Kinerja dan Aturan

“Alasannya, seorang guru minimal sekolah keguruan PGSD atau sarjana pendidikan. Sedangkan saya hanya lulusan SMA,” ujar Oya, Senin (15/11/2021) pekan lalu.

oya guru honorer
Oya saat menerima bantuan biaya hidup dari Global Zakat-ACT. (ACTNews)

ACTNews, BOGOR – Tingkat pendidikan yang belum sesuai aturan membuat Oya, guru honorer sebuah sekolah di Desa Nambo, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor harus siap jika sewaktu-waktu diberhentikan. Ia sudah 14 tahun mengabdi, diwali sebagai pegawai kependidikan dan guru pada 2017.

Awal karier, Oya bertugas sebagai staf sarana dan prasarana di sekolah. Tahun 2014, Oya dipercaya untuk mengelola perpustakaan sekolah. Tahun 2017, sekolahnya kekurangan tenaga pengajar dan kepala sekolah saat itu menugaskan Oya untuk mengajar. 

“Lalu saat kepala sekolah ganti, saya diminta untuk tidak mengajar. Alasannya, seorang guru minimal sekolah keguruan PGSD atau sarjana pendidikan. Sedangkan saya hanya lulusan SMA,” ujar Oya, Senin (15/11/2021) pekan lalu.


Di samping mengajar, tugas mengurus sarana sekolah juga masih menjadi tanggung jawab Oya. Ia pun mendapat gaji Rp800 ribu per bulan. Ia pun berharap bisa menempuh pendidikan guru agar bisa menunjang kariernya sebagai guru. Selain itu,

Ia juga berharap anak-anaknya bisa menempuh pendidikan tinggi agar menjadi orang yang lebih kayak.

Sebagai bentuk dukungan, Global Zakat-ACT memberikan bantuan biaya hidup untuk Oya pada Senin itu.[]