Dinamika Kehidupan Uighur dalam Suaka Turki

Dinamika Kehidupan Uighur dalam Suaka Turki

Dinamika Kehidupan Uighur dalam Suaka Turki' photo

ACTNews, ISTANBUL - Bagi diaspora Uighur di Turki, mengungsi dari Xinjiang dan bertahan hidup di Negeri Ottoman tersebut merupakan pilihan yang tidak mereka sesali. Tidak hanya rasa aman, mereka juga merasakan kenyamanan di negeri ini. Secara kultural, Turki menawarkan kesamaan akar budaya dan keagamaan dengan suku Uighur.

Seyit Tumturk, salah satu diaspora Uighur di Turki, mengatakan, kondisi komunitas Uighur di negeri ini bisa dibilang baik. Mereka hidup membaur dengan warga Turki lainnya dan bebas melaksanakan ibadah sesuai syariah Islam. Para pelajar pun bebas menempuh pendidikan agama Islam hingga jenjang universitas, sesuatu yang sulit mereka dapatkan di kampung halaman mereka, Xinjiang. Dengan kata lain, mereka bebas menunjukkan identitas dan melakukan hak dan kewajiban mereka sebagai muslim.

Namun, diakui Seyit bahwa Uighur di Turki diterpa kekhawatiran besar dalam setahun belakangan ini. Hal ini mengingat adanya krisis Uighur di Xinjiang, Cina, di mana jutaan warga Uighur dimasukkan ke kamp konsentrasi yang dikenal sebagai kamp reedukasi.

 

Seyit Tumturk bersama diaspora Uighur di Turki

“Data dari PBB ada satu juta Uighur yang ditahan di kamp konsentrasi tersebut. Namun, perkiraan kami ada 3-5 juta jiwa di sana. Ulama-ulama, penulis, seniman, hingga warga Uighur biasa ditangkap dan dimasukkan ke sana. Ini tentu membawa dampak psikologis bagi komunitas Uighur di sini (Turki) karena rata-rata keluarga mereka masih ada yang berada di Xinjiang. Hingga kini, keluarga mereka tidak dapat dihubungi,” ungkap Seyit saat ditemui ACTNews di Istanbul, Rabu (16/1). Ia merupakan Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur di Turki dan juga pernah menjadi Wakil Presiden Kongres Uighur Dunia.

Selama setahun belakangan ini pula, keadaan perekonomian diaspora Uighur di Turki kian terbatas. Bagi mereka yang masih mengandalkan pengiriman dana dari keluarga di Xinjiang dan belum memiliki pekerjaan stabil di Turki, hal ini menjadi kendala baru untuk bertahan hidup di negeri suaka.

Seyit mengatakan, setelah adanya embargo ekonomi Cina kepada Turki, khususnya untuk warga Uighur di negeri ini, banyak diaspora Uighur yang mengalami kesulitan. Misalnya saja mahasiswa Uighur yang tengah menempuh pendidikan di Turki. Mereka tidak lagi dapat berkomunikasi dengan keluarga di Xinjiang, pun tidak bisa menerima pengiriman barang atau dana untuk menunjang pendidikan mereka di Turki. 

Pada masa-masa sebelumnya, menurut Seyit, masyarakat Uighur banyak menyekolahkan anak-anaknya di Mesir, jumlahnya sekitar ribuan anak. Namun di dua tahun belakangan, para mahasiswa tersebut ditarik dari Mesir dan dimasukkan ke kamp reedukasi.

 

Seyit memaparkan kondisi mahasiswa, yatim, dan janda Uighur di Turki kian bergantung pada bantuan

“Bahkan sekitar 1.500 jiwa dari mereka terpaksa lari ke Turki untuk menghindari masuk ke kamp itu. Mereka ini lah yang sekarang dalam kondisi yang sangat membutuhkan karena mereka tidak bisa menghubungi keluarga via komunikasi mana pun. Mereka juga tidak bisa meneruskan kuliah di sini karena kekurangan biaya,” terang Seyit.

Bertahan hidup dari bantuan

Seyit lantas berkisah tentang anak yatim yang berlari di sebelahnya. Selain mahasiswa, yatim dan janda Uighur di Turki juga terkena imbas dari embargo ekonomi tersebut.

“Anak perempuan di samping saya ini yatim. Dia hidup bersama ibunya yang janda dan amat membutuhkan karena mereka tidak bisa mendapatkan kiriman dana dari keluarganya di Urumqi, Xinjiang,” ujar Seyit, menunjuk anak perempuan yang berlari di sebelahnya. 

Aisyah, ibunda dari yatim tersebut, mencari suaka di Turki pada 2015. Awalnya, perpindahan ke Turki akan dilakukan bersama suami dan ketiga anaknya. Namun, saat itu kondisi tidak memungkinkan bagi seluruh keluarganya pindah ke Turki.

 

Aisyah (kiri) hidup berdua dengan anak bungsunya di Turki sejak 2015

“Suami saya lantas meminta saya untuk berangkat duluan karena kondisi saya sedang mengandung anak keempat. ‘Kamu dan kandungan kamu lebih penting. Nanti saya dan tiga anak kita menyusul.’ Itu kata-kata suami saya sebelum saya berangkat,” ungkap Aisyah.

Namun, suami dan tiga anak Aisyah tidak menyusulnya ke Turki. Tak lama setelah kepergian Aisyah ke Turki, suaminya ditangkap oleh kepolisian setempat walaupun tidak memiliki rekam jejak kriminalitas.

“Saya sempat mengecek keadaan keluarga di sana dan ternyata suami saya ditangkap dengan alasan saya pergi ke Turki dan karena identitas Islamnya. Sampai sekarang saya tidak tahu nasib suami di kamp seperti apa. Begitu juga dengan nasib ketiga anak saya lainnya. Kalau mereka wafat, semoga mereka wafat dalam keadaan syahid,” ucap Aisyah getir.

Keputusannya untuk mencari suaka di Turki tidak terlepas dari kondisi Urumqi yang saat itu sangat membatasi keluarganya untuk beribadah, atau bahkan dilarang. “Lalu ada regulasi satu keluarga satu anak, sementara kami segera punya anak keempat. Jadi kami tadinya mau mengungsi untuk melindungi anak-anak kami juga,” imbuh Aisyah

Sesampainya di Turki, ia tidak memiliki relasi Uighur mana pun di sana. Di masa awal kepindahannya, ia kerap dikirimi dana atau barang dari sanak saudaranya di Urumqi ke Turki. Dengan berlakunya embargo ekonomi yang ada, ia terpaksa meminta bantuan dari lembaga-lembaga sosial, termasuk Majelis Nasional Turkistan Timur.

 

Aisyah bersyukur dan berterima kasih atas dukungan besar masyarakat Indonesia terhadap Uighur

“Lalu baru-baru ini saya mendengar bahwa masyarakat Indonesia menyuarakan dukungan terhadap kami, begitu besar. Ini sangat menyentuh. Saya sangat berterima kasih kepada masyarakat indonesia, terlebih saat seperti ini. Kami mendoakan semoga Allah memberikan berkahnya kepada masyarakat Indonesia.

Syukur dan doa serupa juga kembali dilantunkan Seyit Tumturk yang pekan lalu berkunjung ke Indonesia untuk menyampaikan bela sungkawa terhadap korban tsunami Selat Sunda. “Terima kasih kemarin disambut di Jakarta oleh ACT dan berbagai elemen masyarakat Indonesia lainnya. Lalu sekembalinya kami di Turki, kami juga dikunjungi oleh tim ACT di sini dan menanyakan apa yang kami (Uighur di Turki) butuhkan. Ini merupakan suatu hal yang ibaratnya menyentuh hati kami atas begitu peduli dan tanggapnya masyarakat Indonesia kepada kami. Semoga Allah senantiasa merahmati kalian,” pungkas Seyit.

Diaspora Uighur di Turki meningkat dalam sedekade terakhir ini. Intelektual Uighur di Turki, Humuthan Göktürk, memperkirakan saat ini ada sekitar 12.000-15.000 Uighur yang tinggal di Turki. Angka ini meningkat tiga kali lipat dari yang tercatat pada 2009, yakni sekitar 3.500-5.000 jiwa Uighur di Turki. Peningkatan jumlah ini dipicu kuat oleh represi yang terjadi di Xinjiang. []

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan