Dinding Berlubang, Lantai Pasir, Keluarga Alhawy di Gaza Bertahan Hadapi Musim Dingin

“Kami khawatir dengan musim dingin, sebab kami tidak memiliki cukup pakaian, kasur, bahkan selimut,” kata Faten Alhawy, ibu delapan anak di Gaza.

Dinding Berlubang, Lantai Pasir, Keluarga Alhawy di Gaza Bertahan Hadapi Musim Dingin' photo
Faten Alhawy menunjukkan kondisi rumah dengan dinding berlubang dan ditambal jerami. (ACTNews)

ACTNews, DEIR AL BALAH – Bangunan tempat tinggal keluarga Mohammed Alhawy nyaris tidak seperti rumah. Dinding bata yang ditambal seng dan jerami serta lantai pasir sama sekali tidak menggambarkan bangunan itu layak huni. Di tempat itulah, Faten Alhawy dan Mohammed Alhawy membesarkan delapan anak mereka.

“Kami khawatir dengan musim dingin, sebab kami tidak memiliki cukup pakaian, kasur, bahkan selimut,” kata Faten kepada mitra Aksi Cepat Tanggap yang mengunjunginya akhir Oktober 2020 lalu. 

Keluarga Alhawy adalah satu dari ribuan masyarakat prasejahtera di Gaza. Mereka tinggal di bangunan yang memprihatinkan, sekadar beratap agar mereka terhindar dari suhu dingin. Namun, nyatanya musim dingin yang datang tiap tahun selalu tidak ramah. Tanpa makanan dan pakaian hangat, keluarga-keluarga di Gaza yang tinggal di rumah tak layak huni sekuat tenaga melawan gigil.

Kemiskinan menjadi belenggu yang terus melilit masyarakat Gaza. Bagaimana tidak? Dalam keluarga Alhawy saja, Mohammed tidak dapat bekerja. Ia menderita sakit neurologi, sekali pun bisa, tidak ada lapangan pekerjaan di Gaza.

“Ini kasur satu-satunya yang kami punya,” kata Faten melanjutkan cerita. Sembari menggendong anak bungsunya, Faten menunjukkan kasur tipis di pojok ruangan. Kasur itu diletakkan di celah rak kayu lapuk dan dinding.

Tidak jauh dari kasur, ada drum biru yang biasa digunakan keluarga itu menampung air-yang tentu mereka dapatkan dari bantuan. Di luar rumah, barang-barang tidak dipakai lagi dikumpulkan, ada juga tungku yang digunakan keluarga itu memasak. Bahkan kamar mandi mereka hanya ditutup lembaran logam yang penuh lubang.

“Kami tidak memiliki apa-apa, bahkan makanan. Kami tidak tahu bagaimana memberikan seragam sekolah kepada anak-anak, sekolah sebentar lagi dibuka. Bahkan, kami tidak bisa memberi mereka jajan. Apakah ini pantas disebut hidup?” ungkapnya menahan sedih.

Ia pun berharap organisasi kemanusiaan dunia dapat menolongnya. “Kami memohon bantuan kepada orang-orang baik hati untuk menolong kami dan anak-anak ini,” iba Faten.

Kasus pengangguran di Gaza menjadi salah satu sebab prasejahtera ribuan keluarga di sana. Menurut Biro Pusat Statistik Palestina, tingkat pengangguran di Gaza meningkat 3,6 persen pada kuartal kedua tahun 2020, yakni 49,1 persen. Menurut angka tersebut, sekitar 42.900 orang di Gaza kehilangan sumber pendapatan mereka sejak akhir Maret 2020.[]

Bagikan

Terpopuler