Dini Banting Setir ke Usaha Kelontong Setelah Terdampak Pandemi

Setelah tiga tahun berjualan jus dan aneka minuman, Dini Yustiana (36) harus banting setir berjualan kelontong karena usaha sebelumnya sulit berjalan. Dini pun terus memperjuangkan usaha ini, kendati keuntungan yang ia dapat tidak sebanyak berjualan minuman.

Melalui Wakaf UMKM, Dini berencana menambah barang-barang jualan kelontongnya. (ACTNews)

ACTNews, BANYUMAS – Melalui program Wakaf UMKM, Dini Yustiana (36) mendapatkan bantuan modal wakaf dari Global Wakaf-ACT. Harapan Dini melalui program ini, ia bisa mengembangkan warung kelontong yang ada di rumahnya sekarang, sehingga bisa menghasilkan keuntungan dan melunasi utang yang sempat ia pinjam di bank beberapa waktu lalu.

Sebelum membuka warung kelontong yeng menyediakan makanan dan minuman ringan, sembako, serta alat-alat tulis, Dini sempat menjalani usahanya di pinggir sebuah jalan di Kelurahan Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas. Saat itu, ia menjajakan aneka jus dan minuman.


“Waktu itu dari berdagang jus dan minuman, saya bisa untung bersih kurang lebih Rp150 ribu sampai Rp200 ribu per harinya,” ungkap Dini ditemui Tim Global Wakaf-ACT pada Rabu (30/6/2021) lalu. Dari hasil berjualan jus dan minuman, ibu tunggal ini bisa menghidupi seorang anak perempuannya yang kini duduk di bangku kelas empat sekolah dasar.

Tetapi setelah tiga tahun berjalan, usaha Dini turut terdampak oleh pandemi. Sampai akhirnya ia pun banting setir untuk membuka toko kelontong di depan rumah. “Sekarang keuntungan turun semenjak jualan kelontong, jadi Rp 30 ribu sampai Rp40 ribu satu hari,” ujar Dini.

Dini juga sempat memutar otak dan membuka jasa penatu. “Tetapi saat itu tenaga yang mengerjakan belum cukup, sehingga berhenti. Saat ini saya hanya fokus di usaha kelontong,” cerita Dini. Ke depannya melalui bantuan dari Wakaf UMKM, Dini berencana untuk menambah barang-barang jualan di usaha kelontong yang ia geluti saat ini. []