Disabilitas Tak Halangi Linggo Bekerja untuk Kemanusiaan

Dua bulan lalu, relawan dari Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) ini, menderita paraparesis sehingga kakinya tidak bisa berjalan dengan baik dan mesti menggunakan tongkat. Tetapi hal tersebut tidak menghentikan niatnya untuk membantu sesama.

Disabilitas Tak Halangi Linggo Bekerja untuk Kemanusiaan' photo
Linggo di depan teras rumah bersama ayahnya. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, KEBUMEN - Awalnya sakit pinggang, tapi Linggo Wibowo tidak berpikir macam-macam. Sebab, dengan minum obat nyeri yang ia beli dari apotek, nyeri itu hilang dengan sendirinya. Namun lama-kelamaan, obat nyeri sudah tak mampu mengobati sakitnya lagi. Satu hari kakinya melemah dan tidak dapat digerakkan kembali.

“Tiba-tiba sudah begitu, tidak ada tanda-tanda selain nyeri. Kalau diagnosa dokter nama penyakit saya itu paraparesis yang mengakibatkan pelemahan saraf di bagian kaki,” kata Linggo saat Tim ACTNews bertandang ke rumahnya di Desa Lemahduhur, Kecamatan Kewarasan, Kabupaten Kebumen, Selasa (24/12) lalu.

Linggo sudah dua bulan ini menggunakan tongkat. Meskipun begitu, aktivitas Linggo tidak serta-merta berhenti karena penyakitnya. Ia tetap bekerja sebagai seorang desainer grafis di salah satu percetakan di Desa Lemahduhur. Aktivitas lain yang tak bisa ia tinggalkan adalah aktivitas kerelawanan di Masyarakat Relawan Indonesia (MRI).

Jiwa kemanusiaan itu sudah tertumpuk semenjak Linggo SMP, dengan cara ikut berbagai kegiatan kemanusiaan. Sehingga, menjadi penyandang disabilitas bukan halangan bagi Linggo  untuk berkontribusi di dunia kemanusiaan karena ia terbiasa membantu sesama. Sementara itu, sudah banyak juga aksi yang ia lalui selama bergabung dengan MRI semenjak 3 tahun ini.

“Salah satunya ketika longsor di Desa Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, pada 2018 lalu. Saya ikut selama dua minggu di sana, mengevakuasi para korban dan melayani membantu pengungsi juga bersama Tim SAR,” ujar Linggo.

Semenjak sakit, Linggo terus mengikuti beberapa implementasi program kemanusiaan yang diinisiasi oleh MRI – ACT di sekitar Kebumen. Beberapa di antaranya program Sumur Wakaf, dan Mobile Social Rescue (MSR). Baru-baru ini ia juga membantu pembagian bantuan biaya hidup kepada 75 guru yang ada di Kebumen melalui program Sahabat Guru Indonesia.

Linggo menempatkan kebutuhan orang lain yang tertimpa musibah di atas dirinya sendiri. Padahal, ia sedang kesulitan, termasuk keterbatasan ekonomi. Ayahnya bekerja sebagai buruh tani di musim tertentu. Sementara gaji Linggo hanya cukup untuk hidup sehari-hari.

“Intinya untuk perekonomian, keluarga saya menengah ke bawah. Kalau profesi orang tua saya buruh tani di musim tani, dan pencetak bata sehari-harinya. Sementara gaji saya Rp1 juta selama satu bulan,” ungkap Linggo. Sementara itu, ia kini mengikuti sesi terapi pijat sebanyak satu kali setiap minggunya sambil menunggu hasil rontgen pada awal tahun depan, agar bisa diterapi secara medis.

Linggo sedang menunggu di tempat terapi pijatnya. (ACTNews/Reza Mardhani)

Melihat sepak terjang Linggo di dunia kerelawanan, MRI-ACT berencana untuk membantu pengobatan Linggo hingga tuntas. Apiko Joko Mulyono dari Tim Global Zakat-ACT mengatakan, bantuan ini merupakan sebuah apresiasi untuk kerja keras Linggo.

“Karena Linggo ini sosok relawan tangguh, boleh kita katakan demikian. Di tengah kesulitannya sendiri bahkan ia masih sempat memikirkan orang lain. Jadi insyaallah, ke depannya setelah kunjungan tim pada hari ini, kita akan mengusahakan bantuan pengobatan untuk Linggo,” tutur Apiko.

Linggo merasa senang dengan rencana bantuan itu. Harapannya saat ini hanyalah untuk sembuh dan bisa beraktivitas kembali seperti sediakala, dan kembali meluangkan waktunya bersama MRI. “Harapannya pastinya saya ingin sembuh secepatnya, agar bisa beraktivitas seperti biasa lagi bersama teman-teman di MRI-ACT, khususnya di Kebumen. Dan tentunya, saya juga ingin menjalani aktivitas sehari-hari seperti sediakala,” harap Linggo. []

Bagikan