Diterjang Banjir, Broto Ingin Segera Bangkitkan Usaha Konveksi

Bermodal semangat, perjuangan Subroto mengumpulkan kaum difabel untuk berkarya dalam keterbatasan membuahkan hasil. Salah satunya, ia punya konveksi yang mempekerjakan teman-teman difabel. Namun, banjir besar menghentikan sementara usaha yang menjadi tumpuan banyak orang itu.

Subroto merapikan masker hasil jahitannya, Kamis (4/3/2021). Akibat banjir, usaha konveksi milikmya yang mempekerjakan teman-teman difabell berhenti operasi. (ACTNews/Ubaidillah)

ACTNews, KABUPATEN BEKASI — Subroto (64) berjalan tergopoh-gopoh. Ia begitu antusias menunjukkan mesin-mesin jahit tua miliknya yang tersimpan berjajar di sudut rumah. Bahan-bahan pakaian juga menumpuk di dalam wadah yang diletakkan persis di samping mesin-mesin tua itu.

Sebagai pengusaha konveksi, pemandangan rumah Broto—sapaan akrabnya—yang terletak di Kampung Nanggewer, Desa Labansari, Kabupaten Bekasi, sepi. Tidak ada aktivitas meski mesin jahit modern dan elektronik tersedia.

“Ini kemarin karena banjir, saya pindahkan ke atas,” kata Broto menunjukkan mesin-mesin jahit elektroniknya yang disusun menumpuk di atas batako, Kamis (4/3/2020). 

Siapa sangka, Broto bukan sekedar pemilik konveksi. Ia punya pegawai yang juga mayoritas difabel. Broto sendiri adalah seorang difabel. Ia lahir dengan satu kaki. 

Semangat Broto berkarya ia wujudkan melalui Yayasan Penyandang Disabilitas Cahaya Mulia. Bukan hanya mengumpulkan para difabel, Broto juga memfasilitasi mereka berkarya, salah satunya menjadi pekerja konveksi. Namun, karena banjir yang melanda Bekasi minggu lalu, usaha konveksi yang menaungi para difabel itu harus vakum.

“Mesin-mesin jahit elektronik itu belum bisa digunakan. Akibat terendam banjir, mesin rusak dan harus direparasi. Aktivitas konveksi sementara terhenti,” akunya. 

Bukan hanya mesin, kain untuk bahan baku produksi juga terendam banjir. Akibatnya, kain-kain yang seharusnya dibuat berbagai macam produk harus dibuang, tak bisa dimanfaatkan, dan menjadi sampah. Kerugian Broto semakin besar, modal pun habis.

Ikhtiar Kembali Bangkit

Broto tak mau pasrah, Ia berikhtiar memperbaiki semuanya secepat mungkin. Ia pun membutuhkan bantuan modal awal untuk kembali mendukung usahanya. Melihat semangat itu, Global Wakaf-ACT berikhtiar membantu Broto dalam menggerakkan usahanya. Melalui program Wakaf Modal Usaha Mikro Indonesia, Subroto mendapatkan bantuan modal usaha beserta pendampingan hingga beberapa bulan ke depan mulai Maret ini.

Ia tak mau, usahanya sejak lima tahun lalu mandek begitu saja. Broto menceritakan, Yayasan Penyandang Disabilitas Cahaya Mulia ia dirikan pada 2016 silam. Sebelum membuat Yayasan, Broto berjuang mandiri tanpa organisasi. Ia mengumpulkan dan meyakinkan para difabel untuk berjuang bersama. “Bahwa nekat, semangat, dan mental kita sempurna, meski secara fisik kita kurang,” katanya. 

Broto kenyang makan asam dan garam kehidupan. Menurutnya, lebih dari 90 persen masyarakat mencibir kondisi fisiknya. Hal ini membuat semangat dan mental Broto semakin bulat. “Saya membuktikan dengan karya dan nyata. Kalau melawan cibiran dengan omongan juga, nggak selesai-selesai,” ujar Broto seraya mengelus dada.[]