Ditinggal Suami ke Malaysia, Julaeha Jatuh Bangun Pertahankan Usaha

Suami bekerja di negeri jiran, namun tidak pernah memberi kabar atau uang. Kini Julaeha menjadi tulang punggung untuk kedua anaknya, dengan usaha warung kelontong yang sudah 30 tahun ditekuni.

Julaeha saat ditemui ACT di depan warungnya. (ACTNews).

ACTNews, KARAWANG — Julaeha (47) harus jatuh bangun mempertahankan usaha warung kelontong miliknya. Sejak sang suami bekerja di negeri jiran tanpa kabar dan tak sekalipun mengirim uang, Julaeha menjadi tulang punggung bagi kedua anaknya. 

Julaeha membuka warung di rumahnya, Dusun Ciligur I, Desa Sindang Mukti, Kecamatan Kutawaluya, Karawang. “Warung saya di depan majelis taklim, jadi ada pengajian kalau siang pukul satu sampai pukul empat sore,” kata Julaeha saat ditemui Global Wakaf-ACT, Ahad (28/3/2021). 

Sebelum Covid-19, Julaeha bisa mengantongi untung Rp200 ribu per hari. Akibat pandemi Covid-19, peserta pengajian sepi. Pendapatan dari warung yang telah berdiri selama 30 tahun itu menurun separuh. Julaeha juga terpaksa berutang Rp4 juta ke koperasi untuk keperluan modal.  

Di samping berjualan, Julaeha juga seorang guru ngaji anak-anak. Dalam sebulan, Julaeha dibayar Rp250 ribu. “Kalau mengajar ngaji, saya ikhlas saja, daripada anak-anak main enggak jelas habis magrib. Tidak berharap dibayar, tapi orang-orang tua yang anaknya ikut mengaji tetep kasih (uang),” ujar ibu dua anak ini. 

Julaeha adalah satu dari ribuan cerita pelaku usaha mikro kecil yang terdampak pandemi Covid-19. Ikhtiar meringankan beban mereka, Global Wakaf-ACT mendistribusikan bantuan modal usaha mikro. Para dermawan bisa ikut andil meringankan beban mereka melalui Indonesia Dermawan. []