Dokter Arini, Sang Penggawa Tim Medis ACT

Pada peringatan hari dokter nasional ini, 24 Oktober, ACTNews kembali memperkenalkan salah satu sosok paramedis yang telah membersamai langkah kemanusiaan ACT selama ini, dr. Arini Retno Palupi, yang kini mengepalai tim medis Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Dokter ACT Arini Retno Palupi
Dr. Arini Retno Palupi memeriksa kondisi seorang bayi di kamp pengungsian Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh, Desember 2017. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Arini Retno Palupi memilih bertugas sebagai dokter di lembaga kemanusiaan. Sosok dokter perempuan ini telah berkecimpung dengan dunia kemanusiaan bersama Aksi Cepat Tanggap (ACT) sejak 2014. Awalnya, Arini mengikuti seleksi untuk Emergency Training Service di Izmir, Turki, yakni sebuah pelatihan kesehatan kolaborasi antara ACT dengan Kementerian Kesehatan Turki.

Memilih menjalankan amanah sumpah dokter di dunia kemanusiaan adalah mimpi dr. Arini sedari menempuh pendidikan dokter.

“Sejak awal memang sudah berniat ingin bergabung bersama ACT. Saya masih ingat betul perkataan Presiden ACT saat itu, Pak Ahyudin. Ia bertanya 'apa cita-cita Anda?' ‘kalau hanya jadi dokter (itu) biasa, tetapi yang tidak biasa adalah Anda harus terus bermanfaat’. Kata-kata itu menjadi tamparan untuk saya, seperti menemukan makna hidup,” ungkap Arini kepada ACTNews, Jumat (22/10/2021).


Dr. Arini Retno Palupi usai menyosialisasikan pola hidup sehat dan bersih di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Asmat, Papua, tahun 2018. (ACTNews)

Sambil bercerita, Arini masih ingat betul pengalaman yang tidak terlupakan dalam hidupnya saat pernah menjadi relawan medis di Kamp Pengungsi Rohingnya di Cox's Bazar, Bangladesh, pada Desember 2017 lalu. Ia mengakui kondisi kesehatan pengungsi Rohingya sangatlah memprihatinkan.

"Dua pekan saya berada di Bangladesh. Di sana saya bersama tim ACT lainnya memberikan berbagai pelayanan kesehatan, mulai dari penyuluhan, dukungan psikososial, dan mendirikan klinik," tuturnya.

Arini juga menceritakan pengalamannya saat melakukan aksi pelayanan kesehatan bagi masyarakat di pedalaman Asmat, Papua, pada 2018. Aksi ini dilakukan sebagai respons atas krisis gizi buruk dan campak yang merenggut nyawa anak-anak di sana.

"Saat itu kami ingat kondisinya sedang KLB (Kejadian Luar Biasa) gizi buruk dan campak. Momen keberangkatan tim medis ACT ke sana berbarengan dengan program ACT menghadirkan Kapal Kemanusiaan Papua. Bagi saya pengalaman ini memperlihatkan nasib saudara sebangsa kita yang harus sakit di tanah subur nan kaya seperti Papua," jelas Arini.

Kini perjalanan kemanusiaan dr. Arini bersama ACT telah berjalan selama tujuh tahun. Berbagai “medan tempur” sudah ia rasakan. Amanah dipundaknya semakin besar, ia dipercaya sebagai Head of Humanity Medical Services.

"Insyaallah, adanya Humanity Medical Services sebagai bagian dari ACT akan terus memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat Indonesia maupun global. Kami yakin masalah kesehatan akan bisa terselesaikan jika semua pihak ikut terlibat aktif dalam berikhtiar bersama," pungkasnya.

Humanity Medical Services ACT terus berikhtiar dengan berbagai program, salah satunya lewat layanan telemedisin Humanity Medical Careline yang bisa diakses masyarakat secara gratis, mulai dari konsultasi kesehatan, obat-obatan, tabung oksigen, pelayanan kesehatan di rumah (home care), hingga ambulans motor dan mobil.[]