Dokter dan Ambulans Indonesia Siaga di Tengah Pandemi Corona di Gaza

Di tengah mewabahnya Covid-19 di Gaza, aktivitas Klinik Indonesia ditangguhkan sementara. Namun, tim dokter serta dua ambulans Indonesia terus beroperasi melayani penduduk dari rumah ke rumah.

Dokter dan Ambulans Indonesia Siaga di Tengah Pandemi Corona di Gaza' photo
Ambulans Indonesia bersama tim dokter dengan protokol kesehatan masuk ke gang sempit menuju rumah pasien selama penerapan karantina wilayah di Gaza. (ACTNews)

ACTNews, GAZA – Meningkatnya kasus positif Covid-19 di Gaza, Palestina belakangan ini membawa dampak yang cukup buruk bagi penduduk yang juga telah lama menderita akibat konflik kemanusiaan. Awal September ini, jumlah kasus yang terdata mencapai lebih dari 37 ribu jiwa. Angka kematiannya pun mencapai ratusan orang.

Akibat pandemi Covid-19 di Palestina, wilayah Gaza khususnya harus menjalani karantina wilayah demi menekan jumlah kasus positif corona. Warga dilarang beraktivitas di luar rumah, sektor ekonomi semakin terpuruk, fasilitas kesehatan yang kurang memadai selama konflik pun harus dipaksakan menangani virus yang belum dipastikan vaksinnya ini. Selain penduduk dan ekonomi yang terbatas aktivitasnya, Klinik Indonesia dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang ada di Gaza pun terpaksa tak melayani pasien. Namun, dua ambulans hasil kedermawanan masyarakat Indonesia  tersebut masih terus bisa beraktivitas dari rumah ke rumah.

Said Mukaffiy dari tim Global Humanity Response-ACT, Selasa (15/9), menjelaskan, aksi medis dari ACT di Palestina yang mendapatkan izin hanya untuk dua ambulans beserta tim dokternya. Untuk Klinik Indonesia untuk sementara waktu ditutup karena dikhawatirkan bisa menimbulkan kerumunan. “Selama lockdown tidak dapat izin (Klinik Indonesia), tapi ambulans beserta tim dokter bisa terus beraktivitas dengan cara langsung mengunjungi pasien dari rumah ke rumah,” jelasnya.

Berbagai jenis penyakit pun masih mendapatkan layanan dari Ambulans Indonesia yang ada di Gaza. Selain penyakit dari personal pasien, ada juga penyakit yang diakibatkan konflik kemanusiaan yang selama pandemi ini juga sempat memanas. Per 1-31 Agustus, dari 2995 pasien Ambulans Indonesia, 40% di antaranya mengalami sakit akibat serangan dari Israel.

Serangan Israel menjelang lockdown

Pada awal Agustus lalu, Aljazeera mencatat, Israel nyaris setiap hari mengirimkan serangan ke wilayah Palestina. Selain serangan, pihak Israel juga mengetatkan blokade. Hal ini jelas sangat merugikan pihak Palestina, khususnya warga sipil, yang selain mereka tertekan akibat konflik, juga hidup penuh ancaman dari virus corona.

Salah satu barang yang diblokade Israel untuk masuk wilayah Palestina adalah bahan bakar. Sulit masuknya barang ini pun membawa dampak buruk bagi kehidupan penduduk Palestina. Pasalnya, listrik di Palestina bergantung pada ketersediaan bahan bakar. Yang lebih luas lagi dampaknya ialah penduduk dan fasilitas kesehatan yang tak bisa beroperasi secara maksimal.

"Oleh karenanya, kami terus berikhtiar membantu warga Palestina di masa krisis yang diakibatkan konflik berkepanjangan dan pandemi. Kami pun mengajak masyarakat Indonesia untuk terus mendampingi saudara-saudara kita di masa pandemi ini," pungkas Said. []