Dr. Lidya: Menjadi Relawan, Mengabdi untuk Tanah Kelahiran

Dokter Lidya menjadi adalah relawan medis banjir Bengkulu

Dr. Lidya: Menjadi Relawan, Mengabdi untuk Tanah Kelahiran' photo

ACTNews, BENGKULU – Ambulans yang ditumpangi dr. Lidya sesekali berguncang melintasi jalan berbatu, jembatan darurat, dan jalan berlumpur. Medan yang dilintasi ambulans hari itu masih meninggalkan lumpur sisa banjir. Namun, tidak ada kepanikan sedikit pun yang tampak di wajah dr. Lidya. Dalam hatinya, ia hanya berdoa, berharap pelayanan medis untuk warga di Desa Talang Pajang, Kabupaten Bengkulu Tengah berjalan lancar.


Dr. Lidya berangkat sebagai relawan medis untuk banjir Bengkulu yang dikoordinasi Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Jakarta Raya. Usia kandungan yang telah menginjak 27 minggu tidak menyurutkan niat tulusnya membantu korban bencana banjir Bengkulu.


“Setelah PTT (Pegawai Tidak Tetap) di Kalimantan Utara, saya dihubungi dari grup WhatsApp, ‘adakah dokter yang bisa (menjadi relawan) ke Bengkulu?’ Saya langsung mengiyakan karena itu juga domisili saya,” ujar dr. Lidya membuka cerita.




Menurut dr. Lidya, sebelum menjadi relawan medis, kesehatan diri sendiri harus diperhatikan. Sebagai ibu hamil, ia harus juga harus tahu kondisi bayi dalam kandungannya. “Saya bismillah saja, saya sehat, bayi saya juga aktif. Semuanya normal lalu saya beranikan diri sebagai relawan medis,” lanjut dokter asal Bengkulu yang sejak kuliah tinggal di Jakarta itu.


Sebelum menjadi relawan medis, ia pun melakukan serangkaian persiapan seperti menjaga kesehatan, mengonsumsi vitamin dan makanan bergizi, dan berdoa agar niat baiknya dilancarkan. Ia pun masih menjalankan ibadah puasa di tengah pengabdiannya sebagai relawan di Kembang Seri, Bengkulu Tengah, Senin (6/5).



Bagi dr. Lidya, peran sebagai relawan medis begitu menyenangkan karena benar-benar menolong pasien yang membutuhkan. Ia pun salut dengan kinerja para relawan dalam bidang apa pun. “Saya salut dengan para relawan (banjir Bengkulu) yang berangkat dari berbagai daerah. Mereka mengorbankan semuanya, mereka meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan meninggalkan keluarga sementara waktu. Mereka berguna sekali bagi korban bencana di Bengkulu,” ungkapnya mengapresiasi.


Tidak menutup kemungkinan, ia pun berharap anaknya kelak mewariskan karakter pekerja keras dan menjadi relawan suatu hari nanti. Ia secara pribadi pun berharap dapat berkontribusi menjadi relawan jika panggilan itu kembali datang. []

Bagikan