Dua Pekan Mengungsi, Korban Gempa Ambon Keluhkan Sakit

Dua pekan pascagempa, para pengungsi mulai mengeluhkan sejumlah penyakit. Aksi Cepat Tanggap pun terus memberikan pelayanan kesehatan dan suplai pangan bagi pengungsi.

Dua Pekan Mengungsi, Korban Gempa Ambon Keluhkan Sakit' photo
Dokter Andriana Wiwi, relawan medis ACT, memeriksa kesehatan pengungsi di Dusun Waiula, Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Maluku Tengah. (ACTNews/Lukman Salahuddin)

ACTNews, MALUKU TENGAH - Pengungsi gempa Ambon mulai mengeluhkan sesak napas, gatal-gatal, dan diare. Keluhan itu diterima tim medis Aksi Cepat Tanggap (ACT) saat melakukan pelayanan kesehatan di pengungsian Dusun Waiula, Desa liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku tengah, Maluku, Ahad (6/10).

Relawan Medis ACT dokter Adriana Wiwi Padundung mengatakan, sejumlah penyakit yang muncul lebih banyak dialami anak-anak. Selain sistem kesehatan anak-anak lebih rentan, kondisi pengungsian yang tidak layak, kotor, lembab, dan dingin turut menjadi sumber penyakit. "Kalau malam dingin. Pengungsi hanya tidur di tenda terpal beralaskan tikar," terang dr. Wiwi.

Menurut dr. Wiwi, antisipasi penyakit bisa dilakukan dengan pindah ke tempat yang lebih bersih. Pengungsi harus benar-benar menjaga kebersihan tenda. "Itu tantangannya. Memang sangat sulit menjaga kebersihan di kondisi terbatas seperti di pengungsian," lanjut dr. Wiwi.

Selain pelayanan kesehatan, sejak hari pertama gempa mengguncang, ACT telah membuka posko kemanusiaan, pendistribusian logistik, dan aktivasi lima dapur umum.

"Lokasi Dapur Umum ACT terdapat di Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat. Dapur Umum yang kami upayakan diaktivasi di bukit-bukit, sebab para pengungsi di atas bukti kurang mendapat bantuan karena bantuan yang datang sudah lebih dulu habis di titik pengungsian di tepi jalan di bawah bukit," terang Komandan Disaster Emergency Response (DER) - ACT Bambang Triyono.

Sedangkan, untuk layanan kesehatan, Bambang menjelaskan, tim medis ACT akan melayani para penyintas dari titik pengungsian ke pengungsian lain.

Berdasarkan data yang diterima ACT per Sabtu (5/10), lebih dari 50 ribu warga mengungsi di Kabupaten Maluku Tengah, 42 ribu pengungsi di Kabupaten Seram Bagian Barat, dan hampir tiga ribu pengungsi di Kota Ambon. Sejumlah pengungsi tersebut masih enggan kembali ke rumah akibat trauma.

Tim ACT untuk gempa ambon masih terus melakukan pendataan terkait keadaan pengungsi maupun kerusakan fasilitas umum.

"Saat ini para pengungsi masih membutuhkan sejumlah keperluan mendesak seperti air bersih, makan, tenda, dan alas tenda. Belum lagi, kondisi pengungsi yang tidak tersebar dalam kelompok-kelompok kecil," tandas Bambang. []

Bagikan