Dua Tahun Pascatsunami, Nelayan di Kampung Ketapang, Pandeglang, Butuh Penguatan Ekonomi

Dua tahun pascatsunami Selat Sunda, perekonomian nelayan Kampung Ketapang, Pandeglang, Banten, belum sepenuhnya membaik. Sebagian dari nelayan masih membutuhkan bantuan biaya renovasi perahu, sebagian yang lain membutuhkan perluasan pasar untuk menjual hasil tangkapan.

Perahu Wakaf dari Global Wakaf-ACT yang pernah diserahterimakan kepada 20 nelayan di Kampung Ketapang, esa Cigarondong, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang. (ACTNews/Ardiansyah)
Setelah bencana, Karya dapat kembali melaut berkat Perahu Wakaf dari para dermawan Global Wakaf - ACT. (ACTNews/Ardiansyah)

ACTNews, PANDEGLANG – Karya, nelayan sekaligus Ketua RT di Kampung Ketapang, Desa Cigorondong, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang ingat betul jika para nelayan di desanya bekerja tanpa bantuan dari siapa-siapa. “Seadanya begitu, rata-rata pakai perahu kayu semua, Rp20 jutaan. Komplit, mesin, perahu, dan jaringnya,” ujar Karya ditemui Tim ACTNews Kamis (15/4/2021) silam.

Namun, banyak nelayan di Kampung Ketapang yang mendadak kehilangan segalanya setelah tsunami Selat Sunda menghantam pada akhir 2018. “Hancur pak, semua hilang. Apalagi perahu saya, saat itu saya lagi di laut mencari ikan. Perahunya tenggelam,” cerita Karya. Ekonomi para nelayan saat itu juga lumpuh total.


Pesisir Kampung Ketapang. (ACTNews/Ardiansyah)

Menurut Karya, setelah musibah itu, beberapa nelayan memperbaiki perahunya sendiri. Selain fiber atau badan perahu, sejumlah lainnya mengalami kerusakan besar seperti bagian mesin. “Jadi misalkan enggak keberatan dari manapun juga, kami dari nelayan sebenarnya membutuhkan bantuan,” harap Karya.

Sebagai langkah awal. Kelompok nelayan mendirikan koperasi sebagai wadah pengelolaan ekonomi nelayan yang terus membutuhkan perbaikan berkala. Koperasi mereka memang belum resmi karena masih terkendala regulasi. “Kesepakatan nelayan di sini bikin koperasi itu untuk membahagiakan nelayan di sini,” ujarnya.

Selain kendala permodalan untuk peralatan, para nelayan juga kerap mengalami kesulitan menjual hasil tangkapan. Letak pasar terlalu jauh sementara transportasi tidak memadai. Alhasil mereka menunggu tengkulak datang. “Di sini saja dijualnya, enggak jauh-jauh. Cuma biasa, dengan harga murah. Kalau enggak habis kami bikin asinan,” ujar Karya.

Apiko Joko Mulyono dari Tim Global Wakaf-ACT menjelaskan, Global Wakaf tengah berikhtiar membuka perluasan pemasaran hasil tangkap para nelayan Kampung Ketapang. “Setelah dua tahun lalu kita menyerahkan Perahu Wakaf yang terdiri dari perahu fiber dan peralatan lengkap kepada 20 orang nelayan, kali ini kami berharap bisa menghadirkan program yang tidak hanya membantu dari sekadar peralatan saja, tetapi juga bantuan lain yang mendorong perkembangan mereka. Bisa berupa pasar atau un pelatihan,” kata Apiko. Ia berharap, Sahabat Dermawan bisa membersamai langkah para Global Wakaf-ACT dalam pemberdayaan nelayan, baik dari aspek ekonomi, pengetahuan, kesehatan, dan sosial.[]