Duka Safein Sepeninggalan Sang Ibu

Duka Safein Sepeninggalan Sang Ibu

ACTNews, SIGI - Bencana gempa dan tsunami pada akhir September lalu turut disertai fenomena likuefaksi di beberapa titik di Palu dan Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Lumpur yang keluar dari tanah saat gempa berlangsung mengakibatkan ribuan rumah masuk ke dalam tanah yang kehilangan kekuatan untuk menopang beban di atasnya. Diperkirakan ribuan orang turut tertimbun, salah satunya adalah ibunda dari Ahmad Safein (12), warga Desa Jono Oge, Kabupaten Sigi.

Petang saat bencana itu terjadi, langit di sekitar Desa Jono Oge, mulai gelap. Matahari mulai turun ke balik Gunung Gawalise yang memanjang dari Donggala sebelah barat sampai ke Sigi. Sinarnya masih terpancar membuat garis yang indah.

Bersama kakaknya, Safein sore itu sedang memancing dan tak berada di rumah. Gempa bermagnitudo 7,4 melanda Sulteng dan membuat panik Safein dan kakaknya. Dengan langkah cepat, mereka lari ke rumah di Desa Jono Oge. Gelap sepanjang jalan karena saat itu mendadak aliran listrik padam di seluruh Sigi, Palu sampai Donggala.

 

Warga lantas tumpah ruah ke jalan. Mereka semua dalam keadaan yang sama: panik. Gempa besar dalam waktu yang cukup lama itu membuat jalan yang dilewati Safein retak dan terputus. Tanah merekah di desa tempat Safein dan keluarganya tinggal. Berbagai bangunan di atasnya turut hancur.

Sepanjang pelariannya menuju rumah, Safein dan kakaknya diperingatkan warga untuk segera menjauh dari sana. Likuefaksi tengah melanda tanah desa yang masuk wilayah Kecamatan Sigi Biromaru itu. Tanah bergerak, membawa apapun yang ada di atasnya menuju barat.

Langkah kaki bocah yang kini mengungsi di Desa Pombewe ini berhenti ketika jalan terputus akibat gempa. Mereka balik kanan dan memutuskan pergi ke rumah kerabat keluarga yang tak jauh dari Desa Jono Oge. “Saat gempa sudah enggak lagi terasa, saya pulang ke rumah, tapi rumah sudah tak lagi di tempat semula, jadi saya kembali ke rumah tante,” cerita Safein saat tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengadakan dukungan psikososial di pengungsiannya, Jumat (26/10).

 

Duka kehilangan ibu

Malam yang panjang bagi Safein dan warga terdampak gempa pada Jumat (28/9) itu. Mereka belum sepenuhnya melihat kondisi tempat mereka tinggal. Saat fajar menjelang, Desa Jono Oge terlihat sudah berpindah dua kilometer jauhnya ke arah barat menuju Kecamatan Dolo. Jalan Poros Palu-Palolo yang menjadi jalan utama di desa itu telah hilang tak kurang 1 kilometer panjangnya. Bangunan yang tak ikut terhanyut arus tanah bergerak, kondisinya rusak parah hingga tak bisa digunakan lagi.

Satu hari setelah gempa, Sabtu (29/9) pagi, Safein dan kakaknya bergegas mencari keluarganya yang sudah terpisah sejak sore sebelum gempa. Anak bungsu dari 5 bersaudara ini berhasil menemukan ayah dan tiga kakaknya. Mereka semua dalam keadaan terluka. Namun, sang ibu belum terlihat wajahnya, tak bersama ayah dan kakak Safein. “Mama tak bersama ayah dan kakak,” tutur Safein, tak kuasa menahan air matanya.

 

Ibunda Safein baru ditemukan keesokan harinya, atau dua hari pascagempa. Bukan kebahagiaan yang tersirat dari Safein, tapi air mata kesedihan. Ibunya terdiam kaku dan ditemukan di Desa Kabobona, Dolo, sekitar 2 kilometer dari lokasi awal rumahnya berdiri. Kabobona menjadi titik akhir dari berhentinya lumpur likuefaksi di Jono Oge. “Waktu itu saya sangat sedih dan menangis,” ungkap Safein, Jumat (26/10).

Sekarang Safein dan empat orang kakaknya piatu. Bocah 12 tahun itu tak bisa lagi menikmati kasih sayang dari seorang ibu. “Sayangi orang tua kalian selagi masih ada,” pesannya lewat tim ACT kepada semua orang di luar sana.

 

Kini, sebulan lebih sudah pascagempa dan tsunami melanda Palu, Sigi, dan Donggala. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana per 21 Oktober menyebutkan, sekitar 2.256 orang meninggal dunia. Sementara itu, tak kurang dari 1.300 orang masih dinyatakan hilang dan lebih dari 68 ribu jiwa mengungsi akibat bencana yang melanda akhir September silam itu. []

 

Tag

Belum ada tag sama sekali