Duka Zal dan Darwin, Korban Konflik Wamena

Konflik yang terjadi di Wamena membawa duka mendalam bagi keluarga Zal dan Iswan di Pesisir Selatan, Sumbar. Mereka merupakan korban konflik yang terjadi di Wamena, Jayawijaya.

ACT Sumbar menyerahterimakan santunan ke keluarga konflik sosial Wamena, Ahad (29/9). Terdapat sembilan warga Pesisir Selatan, Sumbar yang dinyakan meninggal dunia akibat konflik sosial di Wamena. (ACTNews/Aan Saputra)

ACTNews, PESISIR SELATAN Konflik sosial di Wamena, Jayawijaya membawa kabar duka bagi keluarga Zal (31), warga asal Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Zal merupakan salah satu korban selamat dari konflik sosial itu. Namun, istri (Linda) dan anak sulungnya (Ibnu) meninggal dunia.

Zal dan keluarganya merantau ke Wamena untuk membuka usaha kios. Namun, sekarang ia harus rela kehilangan kios berserta isinya, juga istri dan anak pertamanya. “Ketika itu kami sedang berada di kios saat konflik berlangsung,” kenang Zal, Ahad (29/9).

Warga Sungai Rampan, Koto Nan Tigo IV, Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat ini menuturkan, konflik yang terjadi di Wamena berlangsung sangat cepat, membuatnya tak sempat menyelamatkan apapun. Saat ini, Zal mengalami luka bakar dan pulang ke kampung halamannya di Pesisir Selatan setelah mendapatkan pertolongan dari petugas keamanan yang berada di Wamena.

Selain Zal, Muhammad Iswan (24) juga menjadi korban meninggal dunia. Iswan merupakan anak Darwin, warga Pesisir Selatan. Sudah tiga tahun Iswan merantau ke Wamena untuk bekerja. “Dua hari lalu kami (keluarga Iswan di Pesisir Selatan) mendapatkan kabar kalau situasi keamanan di Wamena semakin tidak kondusif,” tutur Darwin kepada tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sumbar di kediamannya.


Ahad (29/9), ACT mengunjungi kediaman Zal dan keluarga almarhum Iswan. ACT menyerahkan santuan kepada keluarga mereka. Kepala ACT Sumbar Zeng Welf mengatakan, ACT akan membantu keluarga korban konflik sosial yang terjadi Wamena. Saat ini, posko kemanusiaan ACT juga sudah dibuka di Sentani serta sebagian tim akan melanjutkan perjalanan ke Wamena dalam waktu dekat.

“Selain santuanan, ACT juga telah mengirimkan tim dokter ke tempat pengungsian di Sentani. Posko kemanusiaan juga sudah berdiri dan akan ada pendistribusian pangan serta pembukaan dapur umum,” ungkap Zeng.

Di Makassar, ACT pada Senin (30/9) akan membuka crisis center yang bertempat di kantor ACT Sulsel. Crisis center dibuka sebagai corong informasi akurat tentang kabar terbaru dari Papua. Lukman Azis Kurniawan selaku Direktur Komunikasi ACT mengatakan, selain pusat data dan informasi, crisis center juga akan jadi tempat pengaduan orang hilang serta tempat masyarakat yang ingin berdonasi membantu korban terdampak konflik. “Crisis center ini dapat diakses siapapun, kami memberikan informasi seakurat mungkin dari tim kami yang berada di Papua,” jelas Lukman.[]