Dunia Berlimpah Makanan, Selagi 85.000 Anak Yaman Tewas Kelaparan

Dunia Berlimpah Makanan, Selagi 85.000 Anak Yaman Tewas Kelaparan

Dunia Berlimpah Makanan, Selagi 85.000 Anak Yaman Tewas Kelaparan' photo

ACTNews, SANA’A – Sudah bukan masanya lagi, di ujung tahun 2018 ini setiap warga dunia sulit untuk mendapatkan makanan yang diinginkan. Di negeri yang baik-baik saja – tanpa kecamuk konflik seperti Indonesia – urusan memilih makanan awalnya memang nampak rumit dengan pilihan harga dan beragam rasa. Namun dengan aplikasi di gawai masing-masing, ribuan jenis makanan itu bisa dikerucutkan jadi satu pilihan. Tinggal pilih, bayar dengan uang elektronik, lalu makanan akan diantar ke depan pintu rumah.

Sementara itu, di sudut lain dunia yang sedang dirundung konflik, makanan justru amat langka. Aplikasi digital untuk memilih dan memesan makanan nihil. Sekadar nasi atau roti, tidak terjangkau untuk dibeli. Kelaparan ini pun kini membubung jadi satu masalah serius, fatal, dan menjadi pemicu kematian.  

Ironisnya, krisis ini tidak begitu didengar, diabaikan, dan dianggap seperti kabar biasa. Setiap negeri yang baik-baik saja, termasuk Indonesia tetap sibuk dalam urusannya masing-masing, bahkan menumpuk sepanjang hari makanan sisa yang akhirnya menjadi sampah.

Padahal, krisis ini nyata. Kelangkaan makanan tengah terjadi di sebuah wilayah negara di pinggiran Teluk Aden, bernama Yaman.

Membaca statistiknya, tergambar fakta pilu. Sejak konflik itu bermula tiga tahun silam, setidaknya ada lebih dari 85.000 jiwa anak-anak di bawah usia lima tahun, tewas karena kelaparan atau malnutrisi. Data ini dirilis oleh sejumlah lembaga kemanusiaan dunia yang bekerja di Yaman, termasuk Aksi Cepat Tanggap (ACT) mewakili Indonesia.

Dalam perbincangan sehari-hari, malnutrisi adalah kondisi tubuh tanpa gizi, asupan gizinya tak imbang, atau bahkan tak ada asupan gizi sama sekali. Kasus malnutrisi di Yaman ini pun jadi refleksi pelik masalah layanan kesehatan di negeri itu. Fasilitas kesehatannya tidak lagi berjalan karena tidak ada obat-obatan apalagi tim medis. Semua dimulai sejak konflik Yaman pecah bulan Maret tahun 2015 silam. 

Malnutrisi parah di tengah konflik

Rudi Purnomo dari Tim Sympathy of Solidarity (SOS) untuk Yaman – Aksi Cepat Tanggap (ACT) menuliskan kabar langsung dari Kota Sana’a, Yaman. Rudi mengatakan, kasus malnutrisi mudah sekali ditemukan di antara banyak populasi anak-anak Yaman.

Seperti Rabu (28/11) kemarin, menceritakan perjalanannya ke sebuah dusun bernama Bani Al-Harith, Kota Sana’a, Rudi menemukan satu unit pusat medis (setara dengan klinik atau puskesmas tingkat dusun/desa di Indonesia) yang dipenuhi anak-anak terduga malnutrisi.

“Dusun Bani Al-Harith, populasinya lebih dari 10.000 orang. Tapi dusun ini hanya memiliki satu unit fasilitas medis seperti puskesmas atau klinik. Satu bulan terakhir, di dusun ini ada sebanyak 24 orang anak terserang malnutrisi kritis,” ujar Rudi.

Kata Rudi, kini tidak ada lagi wilayah yang aman bagi anak-anak di Yaman. Untuk anak-anak Yaman, konflik yang belum ada ujungnya ini berarti ketakutan. Pilihannya hanya dua, terbunuh karena bom atau peluru aktif, atau wafat perlahan karena rasa lapar.

“Di klinik medis Dusun Bani Al-Harith kami mengumpulkan catatan medis. Kasus malnutrisi akut menyebar ke semua anak-anak dusun ini. Seorang anak dengan badan yang kecil, digendong ayahnya datang ke klinik untuk diperiksa. Sementara tangan ayahnya pun baru saja diamputasi, karena perang,” cerita Rudi.

Si bapak dengan tangan teramputasi itu datang ke klinik Dusun Bani Al-Harith sembari menggendong bocah lelakinya, usianya di rentang balita.

“Nama saya Muhammad Waji. Tangan kiri saya diamputasi. Anak saya mengalami gizi buruk dan sakit terus menerus. Tubuhnya kekurangan gizi dan asupan makanan,” kata Waji. 

Masalah malnutrisi makin pelik ketika datang ke pusat layanan medis, justru malah tidak ada apapun yang bisa menolong. Nihil tenaga medis dan obat-obatan. Rudi bercerita, kalau klinik yang ia datangi di Al-Harith kondisinya sangat terbatas.

“Obat-obatan tidak ada lagi pasokan beberapa bulan terakhir. Tenaga medis juga sangat terbatas. Hanya sebatas menimbang berat badan si anak terduga malnutrisi, tanpa ada obat atau tindakan medis seperti seharusnya,” kata Rudi.

Menyimak mirisnya kondisi layanan medis di pinggiran Kota Sana’a, Rudi mengatakan akan ada bantuan Indonesia yang mengisi klinik di Dusun Al-Harith.

“Mewakili Masyarakat Indonesia, Kami Tim SOS untuk Yaman – ACT, akan menjadikan pusat layanan medis di Dusun Bani Al-Harith sebagai pusat kesehatan yang insya Allah mumpuni. Malnutrition Project dari ACT ini akan segera diaktivasi dalam waktu dekat. Obat-obatan dan alat kesehatan akan kami pasok untuk klinik satu-satunya di dusun ini,” papar Rudi.

Pertengahan November silam, laman The Guardian mewartakan, kondisi Yaman sedang berada di titik nadirnya. Konflik perlahan membuat apapun tidak terjangkau. Ketika Yemeni Rial mata uang Yaman ambruk, semua orang di Yaman perlahan tidak mampu lagi membeli apapun.

Lebih lanjut, laman Guardian menuliskan, hari ini ada 18 juta jiwa dari 28 juta populasi Yaman yang bertahan hanya dari bantuan kemanusiaan.

“Lebih dari setengah layanan kesehatan atau klinik di Yaman tutup. Semakin banyak keluarga yang terjebak dalam pilihan sulit untuk membelanjakan uang terakhir yang mereka miliki. Apakah uang itu untuk membeli makanan atau menebus obat untuk anaknya yang malnutrisi?” kata Johannes Bruwer, salah satu pekerja kemanusiaan di Yaman, mengutip dari Guardian. []

Bagikan