Dunia Kuatkan Dukungan untuk Muslim Uighur

Dukungan untuk Uighur baru-baru ini datang dari lebih 20 negara. Puluhan negara yang mayoritas berada di Eropa itu mengirimkan surat kepada Dewan HAM di Jenewa. Mereka mengecam perlakuan Cina terhadap etnis Muslim Uighur.

Dunia Kuatkan Dukungan untuk Muslim Uighur' photo

ACTNews, KAYSERI – Keadaan Muslim Uighur yang hidup dalam represi pemerintah Cina masih terus menjadi sorotan dunia. Dukungan semakin dikuatkan sejumlah negara dengan meminta Dewan HAM memproses perlakuan represif pemerintah Cina atas Muslim Uighur.

"Pernyataan bersama itu penting tidak hanya bagi penduduk Xinjiang, tetapi juga bagi orang-orang di seluruh dunia yang bergantung pada badan HAM PBB untuk meminta pertanggungjawaban Cina," ungkap Direktur Badan Pengawas PBB Jenewa, John Fisher, Rabu (10/7), sebagaimana dilansir dari VOA Indonesia. Mereka mendesak pemerintah Cina untuk menghentikan penahanan warga etnis Uighur dan memberi mereka "kebebasan bergerak".

Akibat represi bertahun-tahun itu, sejumlah Uighur pun terpaksa berdiaspora dan mencari suaka ke negara-negara tetangga Xinjiang, salah satunya Turki. Di negara itu, diaspora Uighur saling membantu.


“Mereka sangat menderita hidup terpisah-pisah dari keluarga. Mereka menjalani semua ujian itu. Mereka harus berjalan kaki berbulan keluar dari negara-(asal)nya untuk selamatkan akidah Islam mereka. Di Turki mereka dengan modal seadanya aktif membangun madrasah-madrasah Quran,” ungkap Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) Ahyudin, Kamis (11/7). Pengamatan itu Ahyudin sampaikan setelah kunjungannya ke Kayseri pada pekan lalu.

Ahyudin pun berharap, perhatian umat tidak lepas dari krisis kemanusiaan yang menimpa Muslim Uighur. “Kita bantu elemen-elemen Uighur di dunia, khususnya di Turki. Melalui agenda kemanusiaan, diharapkan isu Uighur akan menggugah umat sedunia sebagaimana umat mendukung Palestina,” tegasnya.

Salah satu diaspora Uighur di Turki, Seyit Tumturk, mengatakan kondisi komunitas Uighur di negeri Ottoman itu bisa dibilang baik. Mereka hidup membaur dengan warga Turki dan bebas melaksanakan ibadah sesuai syariah Islam. Para pelajar pun bebas menempuh pendidikan agama Islam hingga jenjang universitas.


“Sekitar 1.500 jiwa Uighur terpaksa lari ke Turki untuk menghindari masuk ke kamp reedukasi. Mereka ini lah yang sekarang dalam kondisi yang sangat membutuhkan karena mereka tidak bisa menghubungi keluarga via komunikasi mana pun. Mereka juga tidak bisa meneruskan kuliah di sini karena kekurangan biaya,” ungkap Seyit saat ditemui ACTNews di Istanbul, awal tahun lalu.

Bentuk dukungan pun terus diikhtiarkan ACT, mulai dari dukungan pangan, kurban, hingga beasiswa. Sejak dua tahun lalu, tepatnya Januari 2017, ACT memberikan bantuan pendidikan kepada sejumlah mahasiswa Uighur di Turki. Di tahun yang sama, kurban dari masyarakat Indonesia juga ditunaikan bagi pengungsi Uighur di Turki.

“Insyaallah Idualdha 1440 Hijriah ini, Global Qurban juga akan menyapa saudara-saudara Uighur,” ungkap Sucita Ramadinda dari Global Humanity Response - ACT. []

Bagikan