Ekonomi Nelayan Pandeglang Perlahan Pulih

Setidaknya 400 kapal rusak di hilir Sungai Cipunten Agung saat tsunami menghantam pesisir Selat Sunda pada Desember 2018 lalu. Rusaknya kapal ini berpengaruh pada perekonomian nelayan. Akan tetapi setelah bantuan kapal datang, perekonomian nelayan berangsur membaik.

Ekonomi Nelayan Pandeglang Perlahan Pulih' photo

ACTNews, PADEGLANG Ratusan kapal nelayan bersandar di tepian Sungai Cipunten Agung, Kecamatan Labuan, Pandeglang, Kamis (1/8). Bendera di pucuk-pucuk tiang kapal meramaikan pemandangan. Mereka berkibar mengikuti tiupan angin kencang khas tepi laut.

Salah satu kapal yang bersandar ialah milik Aropik. Kapal berwarna dominan hijau-putih itu dikelola Aropik bersama empat orang lain yang mewakili masing-masing kepala keluarga. Kamis sore itu, kapal Aropik bersandar di hilir sungai setelah seharian melaut.

Aropik menuturkan, kapal yang digunakan kelompok nelayannya merupakan bantuan. Sebelumnya, kapal milik Aropik dan kelompoknya hancur terhantam arus tsunami Selat Sunda yang terjadi Desember 2018 silam. Ketika itu kapalnya juga sedang bersandar di sungai, namun arus menghantamkan kapal yang bersandar dan menyeret hingga lebih kurang 300 meter ke arah hulu sungai. Sekitar 400 kapal saling hantam dan terbawa ombak tsunami hingga mengalami rusak ringan hingga berat.

“Kapal ini bantuan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan mulai saya gunakan sekitar sepekan sebelum Idulfitri lalu,” ungkap Aropik.


Danu Putra Nugraha dari tim ACT menjelaskan, kapal untuk nelayan ini merupakan salah satu program pemulihan ekonomi pascabencana. Di Pandeglang, masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai nelayan mendapatkan bantuan kapal. Hal ini mengingat cukup banyak kapal yang mengalami kerusakan ringan hingga berat, bahkan hilang diterjang tsunami. “Kapal yang digunakan oleh kelompok nelayan Pak Aropik merupakan kapal kayu kedua yang ACT buat. Saat ini masih ada satu kapal lagi dalam proses penyelesaian,” jelasnya, Kamis (1/8).

Penghasilan meningkat

Ketika ditanya penghasilan pascatsunami, Aropik mengenang, penghasilannya turun drastis. Ia mengaku hanya mendapat uang Rp 40 ribu hingga 50 ribu per hari. Bahkan pendapatannya tak jarang di bawah itu ketika cuaca dan musim tak mendukung. Dengan kondisi kapal yang rusak, Aropik terpaksa harus ikut kelompok nelayan lain untuk melaut. Hasil laut pada Desember-Januari juga sedikit karena cuaca dan musim ikan sedang sedikit. Berkurangnya pembeli juga mempengaruhi penghasilan nelayan.

Akan tetapi, hasil berbeda Aropik rasakan sejak melaut dengan kapal bantuan dari ACT. Kelompok nelayan Aropik mulai melaut dengan kapal bercat dominan hijau-putih mulai akhir Ramadan lalu. “Biasanya cari cumi atau ikan yang memang sedang musim,” cerita Aropik di atas kapal barunya itu.


Kini penghasilan kelompok nelayan Aropik meningkat dibandingkan harus ikut dengan kelompok nelayan lain. Sekali melaut, yang biasa dimulai pukul 3 pagi dan pulang ke Labuan sekitar pukul 14.00 WIB, anggota kelompok nelayan Aropik dapat mengantongi keuntungan bersih setidaknya Rp 100 ribu. Jika ikan sedang tak banyak, mereka pun memilih untuk tidak menjual ikan di pasar, melainkan untuk dikonsumsi sendiri bersama keluarga.

“Adanya kapal bantuan ini buat nelayan lebih mudah melaut. Saya dan kelompok saya enggak lagi bergantung sama pemilik kapal (bos). Penghasilan juga meningkat karena keuntungan dibagi rata berlima,” ungkap Aropik.[] 

Bagikan