Empat Lempeng Tektonik jadi Sumber Gempa di Wilayah Indonesia

Konsekuensi Indonesia berada di wilayah perbatasan 4 lempeng tektonik adalah memiliki 13 megathrust dan 295 sesar aktif yang menjadi sumber gempa. Kerusakan akibat gempa dapat dihindari dengan melakukan langkah mitigasi dini.

potensi dan mitigasi bencana
Rumah rusak akibat gempa dan tsunami di Palu tahun 2018. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA SELATAN – Indonesia berada di wilayah rawan gempabumi dan tsunami. Ada empat lempeng tektonik yang berbatasan dengan wilayah Indonesia yaitu Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan FIlipina. 

Koordinator Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono menyatakan, konsekuensi Indonesia yang berada pada batas 4 lempeng tektonik adalah memiliki 13 megathrust dan 295 sesar aktif. Inilah penyebab mengapa Indonesia rawan diguncang gempa dan tsunami. 

“Sebagian besar aktivitas gempa di Indonesia terjadi di Zona Subduksi Lempeng. Sejak tahun 1600 Indonesia sudah diguncang gempa bermagnitudo lebih dari 8,0 lebih dari 20 kali, sekitar 90 persennya menyebabkan tsunami,” kata Daryono dalam Webinar BMKG Memperingati Hari Meteorologi Dunia ke-72, Rabu (16/3/2022). 

Selain sumber gempa akibat tumbukan dua lempeng, sumber gempa di Indonesia juga dari 295 sesar aktif-yang sudah teridentifikasi, baik yang di darat maupun laut. Sesar aktif adalah bagian lempeng yang mengalami rekahan akibat mendapat tekanan dan bagian lemah itu mengalami pergeseran. 

“Gempa akibat sesar aktif biasanya jenis gempa dangkal. Di Indonesia gempa mematikan akibat sesar aktif sudah 46 kali terjadi. Hingga saat ini masih banyak sesar aktif yang belum teridentifikasi,” jelasnya. 


Titik gempa di Indonesia. (BMKG)

Indonesia memiliki catatan gempa yang sangat banyak. BMKG mencatat dari tahun 2008 hingga 2022 gempa di Indonesia per tahun mencapai 5.818 kali, jumlah gempa signifikan (lebih dari M5,0) sebanyak 350 kali. 

“Rata-rata gempa merusak terjadi sebanyak 10 kali dalam setahun dan dalam 2 tahun gempa berpotensi tsunami terjadi 1 kali,” kata pria lulusan Universitas Indonesia ini.  

Gempa kuat akan berdampak terhadap kerusakan karena struktur bangunan lemah dan kondisi tanah lunak. Di Indonesia masih banyak bangunan yang belum berstandar banguanan tahan gempa. “Gempa tidak membunuh, tetapi bangunan yang roboh itulah yang membuat banyak orang meninggal dan luka-luka,” ujarnya. 

Mitigasi Bencana

Mitigasi bisa mengurangi kerusakan ataupun kerugian yang besar akibat bencana. Suci Dewi Anugrah Sub Koordinator Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG menjelaskan 12 langkah mitigasi bencana. 

Pertama mengidentifikasi potensi bahaya dengan membuat peta bahaya gempa dan tsunami. Kedua mengidentifikasi perkiraan jumlah penduduk yang berada di wilayah terdampak. Ketiga Menginventarisir sumber daya untuk pengurangan risiko bencana. 

Keempat menyiapkan sarana dan prasarana evakuasi seperti jalur evakuasi, rambu, sirine/alarm, titik kumpul dan tempat evakuasi. Kelima menegakkan aturan dan membuat bangunan tahan gempa. Keenam menggencarkan sosialisasi dan edukasi kebencanaan untuk masyarakat dan anak sekolah. 

Ketujuh menggencarkan gerakan Tas Siaga Bencana. Kedelapan melakukan latihan evakuasi gempa bumi dan tsunami untuk masyarakat dan siswa sekolah secara rutin. Kesembilan menyiapkan jaringan informasi dan komunikasi untuk menerima dan menyebarluaskan informasi gempa dan peringatan dini tsunami secara cepat. 

Kesepuluh memiliki command center. Kesebelas memiliki rencana operasi darurat (rencana kontingensi). Kedua belas menata ruang berbasis risiko gempa dan tsunami.[]