Empat Manfaat Digitalisasi Wakaf

Digitaliasi wakaf dikatakan dapat mendorong transformasi wakaf produktif di Indonesia. Manfaatnya pun beragam, di antaranya sebagai sarana literasi, mempermudah wakif, menarik kaum muda, serta membantu nazir dalam pengelolaan.

Ilustrasi. Hadirnya platform digital memberikan beragam manfaat untuk ekosistem perwakafan di Indonesia. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Perkembangan teknologi saat ini begitu pesat. Segala kegiatan manusia kemudian menjadi lebih mudah berkat kehadiran teknologi. Termasuk untuk beramal, salah satunya seperti melakukan amalan berwakaf.

Banyak pihak pun mendukung langkah ini. Digitalisasi dianggap dapat menjadi salah satu langkah penting menuju transformasi wakaf di Indonesia. Lantas, apa saja manfaat apa saja yang diberikan digitalisasi kepada wakaf di Indonesia?

Meluaskan literasi

Pemanfaatan platform digital penting untuk mempercepat transformasi wakaf produktif. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Presiden Maruf Amin dalam Rakornas Badan Wakaf Indonesia (BWI) bertajuk “Era Baru Perwakafan Nasional Melalui Transformasi Digital" pada pertengahan bulan Maret lalu.

Salah satu fungsinya adalah sebagai sarana edukasi dan literasi. Oleh karena itu menurut Wapres, literasi dan edukasi wakaf perlu dikembangkan dalam berbagai platform media sosial secara kontinyu. Selain itu juga harus dengan narasi yang mudah dipahami oleh masyarakat.

“Pemanfaatan teknologi dan platform digital bagi peningkatan kesadaran berwakaf sangat penting, terutama bila kita ingin menjangkau generasi milennial yang sehari-hari akrab dengan teknologi digital,” ujarnya.

Permudah wakaf

Tujuan teknologi yang membuat segalanya lebih mudah, juga memberikan manfaat kepada para wakif. Masih menurut Wakil Presiden Ma’ruf Amin dalam helatan yang sama, digitalisasi wakaf harus didorong mulai dari tahap pengumpulan sampai pelaporan pemanfaatan wakaf.

Dalam pengumpulan wakaf, kata dia, terdapat beberapa platform digital yang dapat digunakan. Misalnya melalui sistem quick response code (kode QR), platform pembayaran digital atau dompet digital, serta proses auto debit rekening perbankan, baik melalui e-banking maupun mobile banking. “Dengan demikian para wakif (pemberi wakaf) akan menjadi lebih mudah dalam berwakaf,” ujar dia.


Mampu gaet kaum muda

Digitalisasi juga dikatakan menarik minat anak muda untuk berwakaf. Bahkan jumlah pewakif muda saat ini menjadi lebih banyak ketimbang pewakif yang berusia lanjut. Berdasarkan data dari Forum Wakaf Produktif, rentang usia, profil donatur kalangan milenial (24-35 tahun) mendominasi sebesar 48 persen. Angka itu jauh lebih besar berbanding dengan rentang usia 35-55 tahun, yakni hanya 35 persen, sementara usia lebih dari 55 tahun di angka 11 persen.

“Sejak ada intervensi digital, ada perubahan profil donatur. Saat ini (wakaf) sudah mulai bergeser ke kalangan milenial. Milenial berwakaf memang (jumlah donasinya) tidak besar, tetapi jumlah (mereka yang berwakaf) sangat besar,” kata Ketua Forum Wakaf Produktif Bobby Manullang, dalam webinar Gerakan Wakaf Nasional, Januari lalu.

Meningkatkan pengelolaan wakaf

Sementara dari nazir sendiri, diharapkan pengembangan wakaf ke arah digital dapat mentransformasi pengelolaan wakaf itu sendiri. Misalnya pendapat Ketua BWI Muhammad Nuh yang tidak ingin urusan pengelolaan wakaf dianggap konvensional dan tidak bisa memanfaatkan teknologi digital. Baginya, transformasi dari arah analog kepada digital kini sudah menjadi keharusan.

"Sehingga, bukan sekadar digitalisasi, tetapi juga ingin memanfaatkan teknologi digital ini untuk menggerakkan organisasi kita (BWI). Memungkinkan yang tidak mungkin, sampai dengan transformasi tata kelola kita, dan mindset terkait pengelolaan wakaf. Karena kalau tidak migrasi ke digital, saya kira justru akan menjadi organisasi yang expired, yang kedaluwarsa,” ujar dia. []