Empat tahun Mengungsi, Rohingya di Bangladesh Masih Mencari Kehidupan yang Layak

25 Agustus lalu, tepat empat tahun sudah ratusan ribu warga Rohingya mengungsi ke kamp pengungsian di Cox’s Bazar, Bangladesh. Meski terus berbagai krisis kemanusiaan, mereka masih berharap bisa mendapat kehidupan yang lebih layak.

rohingya di bangladesh
Ilustrasi. Pengungsi Rohingya di Bangladesh masih terus berharap mendapat kehidupan yang layak. (ACTNews/Rahman Ghifari)

ACTNews, COX’S BAZAR – Empat tahun ratusan ribu pengungsi Rohingya menempati kamp pengungsian di Cox’s Bazar, Bangladesh. Selama empat tahun itu pula, mereka terus menanti kehidupan yang lebih layak dan aman. Namun, harapan itu masih tetap mengendap dalam angan. Sampai saat ini, mereka masih hidup dengan diselimuti berbagai krisis kemanusian.

Persoalan tahunan yang mereka hadapi adalah tempat tingal. Kamp-kamp pengungsi di Cox’s Bazar banyak berdiri di area perbukitan. Meskipun berupa bukit, nyatanya area di sana sangat gersang karena tidak adanya pepohonan. Bila musim kemarau tiba, kamp-kamp pengungsian menjadi sangat panas. Hal ini membuat rawan terjadi kebakaran karena tenda pengungsi yang hanya terbuat dari kayu. Bahkan ribuan rumah dan beberapa pengungsi meninggal dunia pada peristiwa kebakaran pertengahan Maret lalu.

Tidak hanya saat musim kemarau. Bencana juga mengancam pengungsi Rohingya saat musim hujan tiba. Bisa dipastikan akan selalu terjadi banjir ketika hujan lebat. Longsor pun menjadi rawan terjadi. Sudah beberapa kali pada tahun ini, tenda-tenda pengungsi hancur karena banjir maupun tertimbun tanah longsor.

Rakibul Alam (35), salah satu pengungsi Rohingya menceritakan, awal Agustus lalu, gubuk tempat tinggalnya bersama  istri, dan ketiga anaknya telah hancur setelah badai monsun melanda wilayah Cox’s Bazar. Padahal, tenda yang terbuat dari kayu dan terpal sederhana tersebut telah menjadi tempat keluarganya bernaung selama bertahun-tahun.

Awalnya, gubuknya tersebut masih mampu bertahan ketika badai menyebabkan banjir setinggi lutut orang dewasa selama dua hari. Namun, di hari ketiga, atap gubuknya runtuh, dan memaksa Rakibul dan keluarga mengungsi ke area evakuasi.

Meski begitu, Rakibul mengaku kondisinya saat ini lebih baik ketimbang empat tahun lalu saat saudara-saudara muslimnya menghadapi pembunuhan, Rakibul selamat dari tindakan brutal pasukan Myanmar yang menyerbu kampungnya di wilayah Rakhine.

“Kami tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi dengan kami. Mereka membunuh keluarga kami dan membakar rumah kami. Kami melarikan diri dengan hidup kami,” ujar Rakibul yang juga berharap bisa mendapatkan bantuan agar hidup keluarganya menjadi lebih layak.[]