Empat Tanda Kebangkitan Wakaf di Indonesia

Empat tanda-tanda ini dapat dilihat dari perkembangan empat pilar wakaf, yakni wakif, harta wakaf, nazir, dan penerima manfaat.

perkembangan wakaf indonesia
Ilustrasi. Berkat perkembangan pengelolaan wakaf, hasil wakaf pun semakin beragam. Seperti gerobak untuk para pelaku UMKM. (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, JAKARTA – Masyarakat memang lebih familiar dengan sedekah dan zakat dibandingkan wakaf. Data menunjukkan literasi wakaf di Indonesia masih rendah. Hal ini yang memantik berbagai pihak untuk mengembangkan wakaf di tengah masyarakat.

Walaupun begitu, menurut Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Mohammad Nuh saat ini terlihat tanda-tanda era baru atau kebangkitan wakaf di Indonesia. Indikator itu ada di empat pilar yang menjadi unsur wakaf, yaitu wakif, harta wakaf, nazir, dan maukuf alaih atau penerima manfaat.

Menurut Nuh, kesadaran kolektif dari para wakif di berbagai struktur sosial harus dimunculkan. “Jadi tidak hanya yang kaya saja yang berwakaf, tetapi orang miskin pun juga berwakaf. Tidak hanya yang tua atau yang merasa tua saja yang berwakaf, tetapi anak muda, mahasiswa, dan kelompok milenial juga berwakaf,” ujar Nuh ketika menjadi pembicara pada webinar Kebangkitan Wakaf untuk Indonesia Melihat 2021 pada Sabtu (22/5/2021).


Nuh mencontohkan cara Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) mengajak seluruh orang di dalam institusi tersebut untuk berwakaf. Nilai wakaf mereka sempat mencapai Rp20 miliar dan wakaf tersebut dapat bermanfaat untuk maukuf alaih di sekitar kampus.

Selanjutnya, Nuh menerangkan, tanda kedua adalah saat ini mulai muncul beragam instrumen wakaf lain. Harta wakaf kini juga semakin beragam. Menurut Nuh, persepsi wakaf dalam bentuk masjid, madrasah, dan makam tidaklah salah, hanya saja tidak cukup sampai di sana. “Alhamdulillah sekarang muncul yang namanya wakaf uang. Wakaf uang ini, sangat fleksibel. Kalau mau wakaf tanah 10 sentimeter persegi enggak mungkinlah. Mau beli tanah di mana (segitu)? Tapi kalau mau wakaf Rp100 ribu, Rp50 ribu, boleh dan mungkin. Sehingga fleksibel,” jelas Nuh.


Bahkan saat ini saham dan intellectual property atau hak cipta pun dapat ikut diwakafkan. Nuh mencontohkan bagaimana musikus jazz Dwiki Dharmawan mewakafkan aset hak cipta dari karya yang ia ciptakan.

Tanda yang ketiga, posisi nazir yang dahulu dikesankan sepuh dan konservatif, kini justru diisi oleh orang-orang yang kreatif. Nuh mengatakan bahwa nazir saat ini diharapkan memiliki value creation, sehingga dapat menciptakan nilai tambah pada produk wakaf.

“Istilah saya (para nazir) sudah technology savvy. Masing-masing sudah melakukan transformasi digital dalam pengelolaan wakaf, sehingga lebih produktif,” terang Nuh. Dari pihak BWI ke depan juga akan mengadakan sertifikasi dan kompetensi nazir untuk memastikan amanah wakaf dikelola dengan baik dan menerapkan good waqf governance sehingga bisa memastikan kepercayaan publik.

Tanda terakhir adalah maukuf alaih yang kini tidak hanya sebagai penerima pasif, tetapi juga aktif menjadi entitas baru. Nuh mencontohkan penerima wakaf Rumah Sakit Achmad Wardi yang selain menjadi tempat edukasi dalam layanan kesehatan, juga percontohan dalam pengelolaan aset wakaf untuk dapat memberikan kemanfaatan yang lebih besar bagi umat. "Dalam wakaf ini juga telah muncul sinergi antara islamic social finance dengan islamic commercial finance," kata Nuh.[]