Enam Bulan Pasok Air Bersih untuk Warga Pelosok Wonogiri

Kemarau panjang juga dirasakan oleh warga di pelosok Kabupaten Wonogiri, Sragen, dan Boyolali. Di sana, kemarau menimbulkan bencana kekeringan dan krisis air bersih.

ACTNews, WONOGIRI - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kemarau panjang bakal terjadi lebih lama dari tahun sebelumnya, yakni bisa sampai enam bulan ke depan. Terjadi setiap tahun, kemarau panjang juga dirasakan oleh warga di pelosok Kabupaten Wonogiri, Sragen, dan Boyolali. Di sana, kemarau menimbulkan bencana kekeringan dan krisis air bersih. 

Kebutuhan air bersih pun meningkat, sedang persediaan terbatas, membuat sebagian besar warga terpaksa membeli pada tangki-tangki swasta. Merespons kondisi tersebut, ACT Solo memulai aksi bantuan air bersih di Kabupaten Wonogiri, Selasa (2/7). Sebanyak puluhan ribu liter air bersih telah didistribusikan ke tiga desa di Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri. 

“Tiga desa tersebut antara lain Desa Songbledeg, Desa Mujing, dan Desa Sumberejo. Insyaallah, distribusi air bersih akan berlangsung selama enam bulan ke depan, merujuk data prediksi dari BMKG. Tidak terbayang berapa uang yang harus warga keluarkan per harinya untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Apalagi dalam tempo waktu yang sangat lama,” kaya Ardiyan dari Tim Program ACT Solo.

Secara keseluruhan, bencana kekeringan dan krisis air bersih juga menimpa sedikitnya 28 kabupaten atau kota, meliputi 208 kecamatan dan 1.416 desa dengan jumlah penduduk sebanyak 854 ribu jiwa. Data ini dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 

“Bantuan air bersih juga merupakan bentuk solidaritas untuk Solo Raya dalam misi kemanusiaan. Kami mempunyai harapan besar, ke depannya ACT Solo bisa memberikan solusi agar masyarakat di daerah rawan kekeringan tidak alami kekurangan air bersih. Mungkin bisa dengan pembangunan Sumur Wakaf yang akan diinisiasi Global Wakaf-ACT,” pungkas Ardiyan. []