Enam Tahun Pascaperang, Warga Palestina Masih Dihantui Krisis Tempat Tinggal

Sebanyak 1.500 unit rumah yang hancur akibat serangan Israel pada 2014 masih belum kembali dibangun. Dengan blokade yang masih berlangsung, ditambah pandemi virus Corona yang memperburuk situasi ekonomi di Gaza, penderitaan yang dialami para penyintas perang di Gaza ini menjadi semakin panjang dan tragis.

Gadis kecil Palestina tengah bermain di reruntuhan rumah yang hancur pada serangan Israel pada musim panas 2014. (Abed Rahim Khatib/ApaImages)

ACTNews, JALUR GAZA -  Sejak serangan Israel yang terjadi pada tahun 2014, ratusan warga Palestina telah kehilangan tempat tinggal. Menurut catatan UNRWA pada 11 Agustus 2014, jumlah rumah yang hancur sebanyak 70 persen lebih banyak dibandingkan pada serangan Israel di tahun 2008-2009. Masih menurut catatan UNRWA, sebanyak 70% dari warga yang terdampak serangan tersebut adalah para pengungsi.

Saber Abu Nahl adalah salah satu warga yang kehilangan rumahnya pada serangan Israel lebih dari enam tahun lalu. Hingga kini, ia masih sering berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya setelah rumah yang ia miliki di daerah Al-Nada luluh lantak dihantam roket.

Bagi Abu Nahl yang bekerja sebagai supir taksi, biaya sewa rumah sebanyak 117 Dollar AS per bulan adalah sesuatu yang sangat memberatkan. “Siang malam aku berangan-angan dapat kembali ke rumahku yang dulu,” cerita Abu Nahl kepada Arab News.

Saat ini, Abu Nahl tinggal di sebuah rumah sewa sederhana di wilayah kamp pengungsi Jabalia bersama tujuh anggota keluarga lainnya. Penghasilannya seringkali tidak mencukupi bahkan untuk sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Seringkali aku pulang ke rumah tanpa membawa cukup penghasilan untuk memberi makan anak-anakku. Bagaimana aku bisa mengurus keluargaku dan membayar uang sewa di tengah kondisi ekonomi yang memburuk seperti ini?” Keluh Abu Nahl.

Perang juga telah membawa kenangan buruk bagi Navin Barakat, seorang janda yang pada awal tahun ini mendapatkan sebuah apartemen baru.

Pada saat terjadi serangan, apartemennya di daerah Al-Nada hancur. Barakat, suaminya Rami, dan anak-anaknya pun mengungsi di sebuah sekolah yang saat itu difungsikan sebagai tempat berlindung. Nahas, sebuah peluru artileri milik Israel menghantam sekolah tersebut. Suami Barakat wafat dan anak-anaknya terluka.

“Aku kehilangan suamiku di umur 37 tahun. Kini aku hanya ingin hidup damai untuk membesarkan anak-anakku,” tuturnya.

Perang yang terjadi pada tahun 2014 telah menyebabkan 12.000 rumah hancur total dan merusak 160,000 lainnya. Dari sekian banyak rumah yang rusak, sebanyak 66.000 unit tak lagi dapat dihuni, sebagaimana laporan Menteri Pekerjaan Palestina dan UNRWA.

Sayangnya, dari sekian banyak rumah yang hancur, masih ada sekitar 1,500 unit rumah yang belum dibangun kembali. Hal ini disampaikan oleh salah seorang anggota parlemen Palestina Jamal Khudari yang juga kepala organisasi Popular Committee Against the Siege (Komite Masyarakat Anti Pengepungan).

Dalam sebuah pernyataan resmi pada media massa, Jumat (10/7/2020), Khudari menyampaikan bahwa penderitaan warga Gaza yang kehilangan tempat tinggal akibat serangan Israel pada 2014 sangat rumit karena selain kehilangan rumah, mereka juga harus merasakan dampak pengepungan blokade Israel atas Gaza yang sudah berlangsung selama belasan tahun.

“Walaupun tidak ada lagi serangan dari Israel, dampak buruknya masih berlangsung hingga kini,” tegas Khudari. Dia menambahkan wabah virus Corona dan blokade tiada henti telah memperpanjang penderitaan warga Palestina di Gaza dan memperparah tragedi yang mereka alami.

Wakaf rumah untuk Palestina

Sebagai salah satu upaya untuk membangun kehidupan Palestina, Aksi Cepat Tanggap (ACT) akan membangun hunian untuk warga Palestina melalui program Wakaf Rumah untuk Palestina. Hunian nyaman untuk warga Palestina ini rencananya akan dibangun di tanah seluas 5,000 m2 di wilayah Ezbat Abd Rabo di Jabaliya Utara, Jalur Gaza.

“Salah satu keuntungan dari lokasi ini adalah letaknya yang diapit tiga wilayah, yaitu Beit Hanoun, Jabalia, dan Tuffah,” jelas mitra ACT di Gaza.

Insyaallah, di tanah ini ACT akan membangun komplek hunian nyaman untuk warga Palestina untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar mereka sekaligus memberdayakan para pekerja bangunan lokal agar lepas dari jerat kemiskinan. []